Pertama, sumber daya duniasantri memang terbatas. Bahkan sangat terbatas. Baik dari segi sumber daya manusia maupun sumber daya pendanaan. Sedari awal, duniasantri ini hanya diiniasi dan dikelola oleh beberapa orang dengan pendanaan dari kantung masing-masing sampai hari ini. Tidak ada bandar atau bohir di duniasantri. Itulah kenapa pijar literasi duniasantri sering “byar-pet” di tengah jalan; itu tandanya kantung-kantung kami sedang menipis.
Jujur, itulah sebagian yang terjadi, sehingga antrean klaim honor dari para penulis terpaksa harus lebih lama. Dan, perilisan naskah pun harus diatur sedemikian rupa sehingga terlihat ada penurunan volume terbitan harian. Menyiasati hal-hal seperti ini agar duniasantri.co bisa istikamah dan tetap independen, tidak padam di tengah jalan atau belok-belok arah karena pesanan sponsor, misalnya, memang tidak mudah. Konsekuensinya, memang, beberapa penulis ada yang merasa tak pas dan tak puas, lalu “pindah ke lain hati”. Bagi kami, lebih baik sesekali meredup atau “byar-pet” daripada “sekali berarti setelah itu mati…” Itulah kenapa, kami tetap bertekad duniasantri tak boleh mati.

Kedua, ada tren penurunan kualitas dan keragaman dari tulisan para santri yang disubmit. Dari sisi volume tak diragukan. Tapi dari sisi kelayakan menjadi pertanyaan. Itulah kenapa banyak kiriman naskah yang terpaksa dipending atau tak dimuat. Hal ini seringkali membuat penulis, terutama yang pemula, frustrasi atau terhenti gairah menulisnya. Patah arang. Kita lupa bahwa menulis itu proses belajar yang tak boleh terhenti.

Semangat, pengurus JDS semua
Alhamdulillah tercerahkan, Gus.