Saat itu saya membayangkan, pada masa kampanye Pemilihan Presiden 2024 nanti, para juru kampanye akan membagi-bagikan buku tersebut ke seantero Indonesia sambil berbisik atau berteriak bahwa calonnya didukung oleh jejaring duniasantri, yang bisa “diplesetkan” sebagai jaringan santri seluruh Indonesia. Buktinya, buku sang calon diterbitkan oleh jejaring duniasantri. Hatta tulisan ini dibuat, saya belum melihat buku tersebut telah diterbitkan.
Peristiwa tersebut menggambarkan tekad jejaring duniasantri untuk istikamah dengan posisi yang tetap independen, tentu dengan konsekuensi dan risiko yang tak mudah. Apakah menjadi istikamah dan independen itu berkonsekuensi dan berisiko? Tentu saja iya. Setidaknya, bukan perkara yang mudah untuk bisa istikamah dan tetap independen. Andaikata mau menerima pinangan banyak orang begitu saja tanpa reserve, tentu saja Muhammad Muzadi Rizki tidak akan membuat tulisan berjudul “Kenapa Pijar Literasi duniasantri Redup” seperti ini.

Apa yang ditulis Muhammad Muzadi Rizki benar belaka. Justru, ketika sebentar lagi memasuki tahun kelimanya, pijar literasi di laman duniasantri mulai meredup. Kenapa? Sebagian sudah terjawab dalam tulisan Muhammad Muzadi Rizki tersebut, sebagian belum. Saya hanya akan menambahkan dua hal untuk melengkapi tulisan tersebut.

Semangat, pengurus JDS semua
Alhamdulillah tercerahkan, Gus.