Sederhananya, lingkungan akan dikalkukasikan secara ekonomi (untung-rugi) tanpa memikirkan tata pengelolaannya. Lantas ia menyodorkan gagasan untuk memosisikan lingkungan atau alam sebagai manifestasi Allah dan hubungannya dengan manusia sebagai tanda atau bukti keberadaan Allah (Nursi, 2000).
Perempuan dan Alam: Subordinasi Ganda Patriarki

Lazimnya, masyarakat patriarki menganggap perempuan menyimpan kekuatan akal yang lebih rendah ketimbang laki-laki. Sehingga alam dan perempuan sama halnya terikat dalam kungkungan dominasi kekuasaan.
Menurut Carolyn Merchant, argumen ini disebabkan karena anggapan bahwa perempuan secara ideologi dikonstruksikan lebih dekat dengan alam karena faktor biologis mereka (Carolyn Merchant,1980).
Hal tersebut diperparah dengan anggapan Shivakekerasan bahwa penganiayaan terhadap alam sama halnya yang didera perempuan yakni, bukan hanya secara ideologi akan tetapi secara materi (Shiva,1988:39).
Padahal, dalam berbagai risalah kontemporer, disebutkan kalau laki-laki dan perempuan memiliki posisi yang sama (Umar, 2001). Hubungan harmonis perlu dibangun tidak hanya secara veritkal dengan Tuhan, namun juga horizontal dengan sesama mahkluk (baca: alam dan perempuan).
Dalam hal ini, diketahui pentingya menjaga relasi harmonis terhadap diri sendiri, manusia, alam, dan Tuhan. Tak lain upaya ini merupakan suatu peribadatan sekaligus upaya bersama untuk melakukan konservasi lingkungan.
