Emak Ingin Naik Haji

Diusia senjanya, Emak ingin ke Makkah. Dia mau berpijak di tanah kelahiran Baginda Nabi. Dia ingin bertemu Allah.

Meski pikun mulai merambati kepalanya sedikit demi sedikit dan pendengarannya mulai kabur, Emak terus mengumpulkan uang setiap hari, seribu demi seribu yang dia masukkan ke dalam botol  dari hasil menjual kolak dan nasi di waktu pagi dan sore. Dia kadang mencari kerja sampingan sebagai pemotong rumput untuk pakan ternak milik tetangga, mencuci pakaian dan segala pekerjaan yang mampu dilakukan ruas-ruas sendi dan sisa-sisa ototnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku, selaku anak satu-satunya, melerai. Semakin dilerai, dia berontak seperti anak kecil. Aku membenarkan bahwa seorang ibu dapat mengasuh sepuluh anak tapi tidak sebaliknya. Jadi, aku hanya bisa memantaunya atau membantu ala kadarnya sebab aku juga memiliki keluarga untuk diurus.

Apabila hasil tabungannya hampir atau mencapai satu juta, Emak memintaku untuk menyetorkannya ke bank syariah di kecamatan. Sudah lima belas tahun lalu Emak mendaftar, tapi dia tidak diberangkatkan juga. Lagi pula, uang yang disetorkannya masih terkumpul delapan juta.  Masih belum mencapai separuh ongkos pemberangkatan. Masalahnya, aku merasa berdosa sebab setiap kali Emak memintaku menyetorkan uangnya, uang itu tak sepenuhnya utuh. Aku menilapnya demi kepentingan keluargaku sendiri secara diam-diam dan memberi laporan palsu kepadanya.

Awalnya, aku merasa tidak terbebani sama sekali. Aku yakin bahkan Emak tidak keberatan meluangkan sedikit uangnya untuk anaknya sendiri. Pernah suatu ketika, cucunya yang ketiga terkena demam. Waktu itu, aku dan suami tidak punya uang sepeser pun. Aku dan suami mencari pinjaman. Mengetahui anaknya kelimpungan, dia merogoh tabungannya—waktu itu terkumpul 854.500 rupiah—dan memberikan seluruhnya padaku. Mataku sembab saat dia menenggelamkannya ke dalam genggamanku.

“Tapi, Mak. Uang ini untuk tabungan Emak agar bisa naik haji,” tolakku. Dia mengelus kepala. Lincak berderit saat dia menggeser tubuhnya sembari berujar.

“Emak ingin naik haji. Tapi Emak tidak mau haji Emak sia-sia karena ada yang lebih membutuhkan, apalagi anak Emak sendiri.” Aku menghambur ke pelukannya dan pungung kami berguncang.

Sekarang, kira-kira satu jam lagi, Kamilah bakal datang dan menagih uang yang kupinjam darinya. Aku sudah mengingkari janjiku sendiri dan lintah penghisap keringat penduduk itu tak mau tahu. Yang dia tahu hanyalah uang kembali dan menikmati cara orang-orang memohon sambil mengusap-usap kakinya. Masalahnya, aku tidak punya uang sama sekali. Kerja suamiku sebagai tukang ojek dan kuli bangunan tidak mencukupi bahkan untuk membeli popok anak ketigaku yang masih balita. Yang ada hanya uang setorannya yang tidak segera kusetor beberapa hari lalu. Uang itu kuselipkan di bawah kertas kado yang menjadi alas baju di dalam lemari.

Aku berniat mengambilnya. Hanya untuk jaga-jaga bila rentenir itu benar-benar datang. Namun, aku ingat perjuangan Emak. Ingat pada cita-citanya untuk naik haji. Dia menabung sejak aku menginjak bangku SD. Aku tahu bagaimana dia jatuh-bangun menjual kolak dan nasi, terjaga jam tiga dini hari untuk memasak, mendirikan salat tahajud, dan berdoa pada Tuhan sembari memandang gambar Kakbah bergaris-garis penyok pada sebuah kertas karton yang dia tempelkan di dinding tempat dia biasa salat. Dia menemukannya di tempat sampah rumah Bu Ani. Gambar itu milik anaknya yang masih TK dan menjadi penyemangat dirinya.

Ketika ada orang yang datang dari tanah Makkah, Emak berhambur untuk menyambutnya meski dia harus berdesak-desakan dengan orang lain. Dia bilang kalau orang yang pulang dari tanah Haram terlahir kembali, tidak memiliki dosa-dosa sebab dia bertemu dengan Allah.

“Emak tidak mau kehilangan berkah menyalami tangan orang yang sudah bersalaman dengan Allah,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan