Emak Ingin Naik Haji

Agak lama menggedor pintu dan memanggil-manggil namaku, dia mengipas kuat-kuat wajahnya. Matahari meninggi, tapi aku tahu kalau panas di dadanya yang membakar mukanya itu. Dia meminta dua lelaki bertubuh tegap berperut buncit itu masuk dan aku tak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Aku mengelus dada. Air mataku merembes ke mana-mana. Aku menyesal berurusan dengannya.

Melihat rumahku diobrak-abrik, tetanggaku menguatkan. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ikut campur urusan Kamilah sama saja bermain dengan api. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di desa ini. Namun, aku tersentak. Ribuan jarum menghunjam dadaku. Di dalam lemari, tepatnya di bawah kertas kado yang menjadi alas baju, uang Emak masih ada di sana. Aku berniat ke luar, tapi tetangga baikku itu mencegatku dan mengacungkan telunjuk ke bibirnya yang ketir.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Biarkan. Apa kau mau terlibat masalah lagi setelah ketahuan sembunyi di sini? Bisa-bisa, keluargaku kena batunya juga.”

Aku terdiam. Punggungku berguncang. Saat ini, posisiku di ujung tombak. Berdiri maupun bergerak, sama-sama menyakitkan. Aku meminta maaf padanya. Kupandangi bayiku dan meraba-raba masa depannya di bawah asuhan oran tua yang punya banyak hutang sepertiku. Beberapa saat kemudian, mereka ke luar sambil memaki-maki lalu pergi. Aku merangsek ke rumah dan mendapati semua barang-barangku berserakan. Seperti sinetron-sinetron di televisi, nyatanya, aku merasakan pula sebagai realita.

Aku terkejut setelah melihat lemari pakaianku terbuka. Aku berhambur dan memastikan uang Emak. Aku bersyukur. Uang itu masih ada. Aku menangis sejadi-jadinya. Wajah Emak berkelindan dalam ingatanku. Aku merasa bersalah telah mengurangi uang setorannya seperti ulat mengikis daun. Sekarang, aku bingung. Haruskah kuulangi lagi? Menilap uang Emak tanpa sepengetahuannya dan memberi laporan palsu bahwa uangnya yang sudah terkumpul berjumlah sekian dan sekian? Aku dilema. Aku terdiam beberapa saat.

Namun, aku teringat kata-katanya. Emak ingin naik haji. Tapi Emak tidak mau haji Emak sia-sia karena ada yang lebih membutuhkan, apalagi anak Emak sendiri. Dengan segenap penyesalan dan pengakuan akan kesalahanku, untuk yang satu ini, aku mau berterus terang untuk meminjam uangnya.

Aku pergi ke rumah Emak dan menitipkan balitaku di rumah tetangga. Sepanjang jalan menuju rumahnya, aku was-was. Khawatir Kamilah dan anak buahnya muncul tiba-tiba dan menghadangku seperti seekor kambing di kandang harimau. Mujur, perjalananku ke rumahnya baik-baik saja. Aku harap Kamilah tidak mengusiknya karena walau bagaimanapun dia ibuku dan ada hubungannya denganku.

Setibanya di rumah Emak, aku terperangah. Mataku berair. Emak tidak jualan dan dia tengah menonton tayangan ulang di televisi. Ribuan orang mengelilingi Kakbah sambil melantunkan kalimat talbiah atau kalimat yang dilontarkan saat tawaf. Emak terisak. Entah mengapa, dia mengambil mukena di sampingnya, memakainya seolah berihram dan mengelilingi televisi butut itu sambil melantunkan labbaik Allah humma labbaik… dengan mata berlinang.

15 Juni 2023.

Ilustrasi: lukisan Emiria Soenassa, @rsip ivaa.

Tinggalkan Balasan