Aku tahu, dia memang mau ke Makkah. Namun bagiku, dia terlalu berlebihan. Emak akan bertamu ke rumah orang yang baru datang haji, mendengar ceritanya hingga membantu menyiapkan hidangan buat pelayat yang datang menyambangi. Seolah dia mau dijadikan pesuruh mereka. Aku mengingatkannya. Dia tersenyum dan memandangku dengan tatapan yang tak dapat kuterjemahkan, menggelengkan kepalanya dan membuang napas berat. Tanpa kata-kata.
Yang paling membuatku malu adalah ketika dia datang ke rumah tetangga dan meminta tuan rumah mengubah saluran TV ke tayangan haji atau hal-hal yang berbau Makkah. Kedengarannya seperti permintaan meski pada dasarnya, dia mau berkuasa atas televisi itu. Dia akan menonton sekurang-kurangnya satu jam sehabis Isya hingga si tuan rumah mengusir dengan halus bahkan mematikan televisi itu tanpa aba-aba.

“Sudah malam, Mak. Besok lagi.”
Melihat itu, dadaku perih. Karenanya, aku juga sisihkan uang Emak sedikit demi sedikit untuk membeli televisi dan antena murahan. Meski terkadang layarnya bergelombang atau bergaris-garis, tapi itu sudah cukup bagiku menambal malu. Suatu ketika, aku mendatanginya dan menawarinya pinjaman ke bank. Emak mendelik. Dia meletakkan mukena yang dijahitnya lalu menatapku. Lekat. Dia mengeluarkan album dari lemari dan menunjukkan padaku foto-foto lama.
“Lihat!!” ujarnya sembari menunjuk pada foto seorang lelaki dengan pakaian ihram berlatar unta dan gurun pasir.
“Nenekmu tidak pernah ke Makkah, tapi kakekmu, dia berkelana ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Emak malu jika tidak bisa mengikuti langkahnya. Dia,” Emak tidak meneruskan kalimatnya. Dia sesenggukan. Aku jadi serba salah. Penawaran itu ditolak untuk ketiga kalinya.
“Emak tidak mau meminjam uang ke bank. Itu pertanda Emak belum mampu,” balasnya. Aku jadi kikuk. Mati kutu.
“Lalu, kapan Emak bakal naik haji kalau Emak terus-terusan begini?”
Emak terdiam. Mulutnya komat kamit membaca istighfar yang samar-samar dalam pendengaranku. Aku tidak tahu apakah perkataanku melukai hatinya atau tidak. Dia beranjak. Meninggalkan jahitannya tanpa menoleh ke arahku.
***
Dan, Kamilah datang. Dia membawa dua lelaki bertampang preman. Dia menggedor-gedor pintu. Beruntung, aku mengungsi ke rumah tetangga dan mengintipnya dari celah jendela berkaca hitam. Suamiku sedang kerja dan dua anakku sedang sekolah. Balitaku masih pulas di ranjang tak jauh dari tempatku sembunyi. Aku harap dia tidak bangun.
