Penyesalan Sang Ayah di Hadapan Jasad "Susi"

Fardhu Kifayah Sepotong Bayang-Bayang

“Kalau takmir masjid sebelah menganggap jasad ini najis, biar saya yang menyeretnya ke liang lahat. Tapi jangan harap saya sudi membalut dada bergelambir buatan itu dengan kain jarit perempuan,” desis Kusno.

Jemari Kusno yang keriput mengikir kuku mayat dengan kasar. Matanya yang mulai menguning akibat katarak, menatap keranda kayu kusam di lantai semen Kotagede. Keranda itu teronggok basah oleh sisa gerimis malam yang membawa bau tanah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bagi Kusno, kematian adalah rumus matematika yang mutlak: laki-laki dibungkus tiga lapis kain putih tanpa jahitan, perempuan lima lapis. Ia tidak peduli jika sepanjang hidupnya orang di dalam keranda itu berdandan dengan gincu murah Malioboro dan dipanggil ‘Susi’ oleh sesama transpuan di Pesantren Al-Fatah.

Malam ini, di bawah temaram lampu minyak yang bergoyang ganjil, Kusno bertekad mengembalikan raga preman jalanan itu menjadi ‘Slamet’, pemuda tulen sesuai nama lahirnya. Bahkan jika ia harus mematahkan tulang selangka mayat itu agar muat dalam kafan lelaki yang sempit.

Ruang pemandian itu sempit. Letaknya di sudut paling belakang dari kompleks masjid tua. Dinding semennya lembap. Lumut hijau tumbuh subur di sela ubin bawah. Udara malam Kotagede berembus masuk melalui ventilasi kayu yang rapuh. Bau kapur barus terasa sangat tajam. Bau itu bercampur dengan aroma tanah basah dari luar.

Kusno sudah berumur tujuh puluh tahun. Semua orang di Kotagede mengenalnya sebagai mudin paling lurus. Ia dingin. Ia tidak pernah banyak bicara saat bekerja. Tangannya sudah menyucikan ribuan tubuh tak bernyawa. Baginya, setiap tubuh mati hanyalah tumpukan daging. Jiwanya sudah pergi menghadap Sang Pencipta. Kewajiban manusia hidup hanyalah membersihkan sisa dunia dari raga tersebut.

Namun, malam ini berbeda. Jantung Kusno berdegup lebih kencang dari biasanya. Dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang bergolak di dalam sana. Rasa bersalah yang lama terpendam mendadak bangkit kembali. Ingatan lama itu menyeruak paksa.

***

Sepuluh tahun yang lalu, sebuah prahara menghancurkan rumahnya. Kusno mengusir Suryo. Suryo adalah anak laki-laki satu-satunya. Alasan pengusiran itu sangat sederhana bagi Kusno yang kaku. Ia menemukan gincu merah di laci meja Suryo. Ia juga menemukan selembar kebaya sutra di bawah kasur anaknya. Bagi Kusno, itu adalah aib yang tidak termaafkan. Ia berteriak murka malam itu. Ia melemparkan kebaya itu ke wajah Suryo. Ia menyuruh anaknya pergi dan tidak usah kembali.

Suryo pergi malam itu juga. Ia membawa tas kecil di bawah guyuran hujan lebat Kotagede. Beberapa tahun kemudian, sebuah kabar angin sampai ke telinga Kusno. Suryo dikabarkan tewas mengenaskan di jalanan Jakarta. Jasadnya dibuang begitu saja tanpa identitas. Kusno tidak pernah memandikan anaknya. Ia tidak pernah menguburkan Suryo secara layak. Peristiwa itu menjadi luka yang membusuk di dadanya.

Sejak hari itu, Kusno berubah. Ia menderita ketakutan yang aneh. Ia fobia terhadap cermin. Ia juga takut melihat bayangan di permukaan air yang tenang. Kusno selalu memandikan mayat dengan mata setengah terpejam. Ia menolak menatap wajah jasad terlalu lama. Sebelum memulai pemandian, ia selalu membalikkan semua cermin di ruangan itu. Ia takut melihat wajah Suryo menuntut balas dari balik kaca buram.

***

Lampu badai di dinding bergoyang perlahan. Minyak tanah di dalamnya hampir habis. Shinta berdiri di dekat pintu kayu. Tubuhnya basah kuyup oleh sisa hujan. Di belakangnya, tiga orang transpuan lain berdiri dengan kepala tertunduk. Mereka adalah santri dari Pesantren Al-Fatah. Wajah mereka tampak sangat lelah. Mereka sudah berjalan jauh malam ini.

“Kami sudah ditolak di tiga kampung, Pak Kusno,” kata Shinta dengan suara gemetar. “Takmir masjid di sana mengusir kami. Mereka bilang Susi membawa sial. Mereka tidak sudi menyentuh jasadnya.”

Kusno tidak menoleh. Ia tetap fokus mengikir kuku jasad Susi. “Saya tidak peduli dengan takmir masjid lain. Di sini, saya yang memutuskan. Tapi, aturan saya tidak bisa ditawar. Dia lahir sebagai laki-laki. Namanya Slamet. Saya akan mengafaninya sebagai laki-laki.”

Shinta menghela napas panjang. Ia menatap jasad rekannya dengan sedih. Susi adalah orang baik. Ia hanya mencari nafkah sebagai pengamen di perempatan jalan. Namun, masyarakat tetap memandangnya sebelah mata. Bahkan, saat sudah mati pun, diskriminasi itu tidak hilang. Shinta akhirnya mengangguk pelan. Ia memilih untuk diam di sudut ruangan bersama teman-temannya. Mereka mulai membaca doa dengan suara lirih.

Kusno mulai menyiapkan air pemandian. Ia mengambil gayung plastik besar. Baskom hitam diisi dengan air bersih dari keran kuningan. Air itu dingin sekali. Kusno memasukkan segenggam daun bidara ke dalam baskom. Ia meremas daun-daun itu hingga air berubah warna menjadi kehijauan. Bau khas daun bidara mulai menguar. Bau itu menutupi bau anyir yang sempat tercium dari tubuh mayat.

Kusno bergerak ke sudut ruangan. Ia mengambil sebongkah kapur barus. Ia menumbuknya menggunakan batu ulekan hingga menjadi bubuk halus. Pikirannya terus melayang ke masa lalu. Wajah Suryo seolah membayangi setiap gerakannya. Rasa bersalah itu kini mencengkeram lehernya. Ia menerima jasad Susi bukan karena kasihan. Kusno ingin menebus dosanya sendiri. Ia merasa, dengan menyucikan Susi kembali menjadi laki-laki, ia bisa memaafkan dirinya atas kematian Suryo.

Ia lupa satu hal penting malam ini. Karena tergesa-gesa, Kusno tidak memeriksa dinding ruangan dengan teliti. Sebuah cermin seng buram masih tergantung di sana. Cermin itu tidak dibalikkan. Permukaannya menghadap langsung ke arah bale pemandian kayu tempat jasad Susi terbaring.

Kusno kembali mendekati jasad. Tubuh Susi tampak sangat kurus. Tulang rusuknya menonjol di balik kulitnya yang pucat. Ada tato gambar bunga mawar di lengan kanannya. Tato itu dibuat dengan tinta murahan yang sudah pudar. Bibir Susi masih menyisakan rona merah gincu yang tipis. Gincu itu dipakai sebelum ia ambruk di jalanan dua hari lalu.

Kusno mengambil gunting besar. Ia mulai menggunting kaus oblong tipis yang dikenakan Susi. Kain basahan diletakkan di atas bagian paha jasad untuk menjaga aurat. Kusno melakukan semua itu dengan mata setengah terpejam. Ia menjaga agar pandangannya tetap kabur. Ia tidak ingin melihat wajah jasad itu secara utuh.

Ia mengangkat gayung pertama. Air bidara yang dingin disiramkan ke dada jasad Susi. Air mengalir membasahi kulit yang sedingin es.

Tiba-tiba, angin malam berembus sangat kencang. Ventilasi kayu berderit keras. Embusan angin itu langsung meniup padam lampu minyak di sudut ruangan. Ruangan pemandian seketika menjadi gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya bulan dari luar yang menembus celah dinding. Cahaya itu berwarna perak kebiruan yang ganjil.

Refleks tubuh membuat Kusno membuka matanya lebar-lebar. Ia panik dalam kegelapan. Matanya secara tidak sengaja menatap lurus ke arah dinding kanan.

Di dalam cermin seng buram yang mulai berembun, Kusno melihat sesuatu yang mengerikan. Bayangan di dalam cermin tidak merefleksikan ruangan pemandian itu. Di dalam kaca, ada seorang pemuda berambut cepak. Pemuda itu mengenakan kaus oblong putih polos. Matanya berlubang hitam besar. Dari kedua lubang mata itu, air mengalir deras seperti air mata yang tidak pernah kering.

Sosok itu adalah Suryo!

Jantung Kusno terasa berhenti berdetak saat itu juga. Tubuhnya membeku. Keringat dingin langsung membasahi punggungnya. Gayung plastik di tangannya terlepas. Benda itu jatuh ke lantai semen dengan suara yang keras, memecah kesunyian malam Kotagede.

“Pak Kusno? Ada apa?” Shinta bertanya dari kegelapan di sudut ruangan. Nada suaranya terdengar sangat cemas.

Kusno mencoba menarik napas panjang. Dadanya terasa sangat sesak. Ia berusaha keras mengendalikan suaranya agar tidak gemetar. “Tidak ada apa-apa. Lampunya mati ditiup angin. Tolong nyalakan kembali.”

Shinta segera bergerak mencari korek api. Beberapa detik kemudian, api kecil kembali menyala di ujung sumbu lampu minyak. Cahaya kuning kemerahan kembali menerangi ruangan pemandian.

Kusno memungut gayung plastik dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menolak untuk menyerah pada ketakutannya. Kusno meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah halusinasi akibat rasa bersalahnya yang mendalam. Ia harus menyelesaikan fardhu kifayah ini secepat mungkin.

Kusno mengambil kain kafan putih yang sudah disiapkan. Kain itu dipotong menjadi tiga bagian panjang tanpa jahitan. Ia memegang kedua pergelangan tangan jasad Susi. Kusno berniat melipat kedua tangan itu agar bersedekap di atas dada jasad, layaknya tata cara pemakaman laki-laki.

Namun, lengan jasad Susi sama sekali tidak bisa digerakkan.

Persendian tangan Susi mendadak menjadi sangat kaku. Kekakuan itu sekeras besi cor yang sudah dingin. Kusno mencoba menekan pergelangan tangan jasad dengan sekuat tenaga tuanya. Ia mengerahkan seluruh sisa kekuatannya hingga otot-otot di lengannya menegang. Jasad itu tetap menolak untuk melipat tangannya.

Tiba-tiba, sebuah bunyi gemertak yang sangat keras terdengar dari dalam dada jasad Susi. Bunyinya seperti tulang yang retak secara paksa akibat tekanan yang terlalu kuat.

Kain kafan putih yang diletakkan di atas paha jasad mendadak tergelincir jatuh ke lantai semen. Kain putih itu seolah menolak untuk menyelimuti tubuh Susi.

Kejadian aneh tidak berhenti di situ. Air bekas cucian jenazah di lantai semen tidak mengalir menuju selokan pembuangan di luar ruangan. Air keruh bercampur kapur barus itu justru mengalir memutar dalam bentuk spiral yang tidak wajar. Air itu mengalir kembali, membasahi kaki Kusno yang telanjang.

Uap panas mendadak menguar dari genangan air di lantai semen. Suhu di dalam ruangan seketika meningkat drastis. Udara menjadi sangat pengap. Bau harum daun bidara dan kapur barus lenyap dalam sekejap. Ruangan sempit itu kini dipenuhi oleh aroma minyak wangi melati yang sangat pekat. Wangi melati murah seharga sepuluh ribu rupiah. Itu adalah parfum yang biasa dipakai oleh para pengamen jalanan Malioboro untuk menutupi bau keringat mereka di bawah terik matahari.

Kusno melangkah mundur dengan napas terengah-engah. Kengerian yang luar biasa kini mencengkeram seluruh jiwanya. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari cermin seng di dinding kanan.

Di dalam cermin yang berembun, sosok Suryo tidak lagi diam. Sosok bayangan itu melangkah maju hingga wajahnya hampir menyentuh permukaan kaca cermin. Tangan bayangan Suryo terjulur keluar dari bingkai cermin yang retak. Tangan sedingin es itu bergerak perlahan, mengarah langsung ke leher Kusno.

Kusno mendadak merasa leher fisiknya tercekik oleh kekuatan tak terlihat. Ia kesulitan menghirup udara malam. Dadanya terasa sangat sakit bagai dihantam gada besi. Ia tidak bisa bersuara. Kusno menyadari satu kebenaran yang menampar jiwanya saat itu juga.

Jasad di depannya ini tidak sedang membalas dendam kepada dirinya. Susi hanya sedang mempertahankan martabat kedirian yang ia perjuangkan sepanjang hidupnya di jalanan. Susi telah memilih jalan hidupnya sendiri sebagai perempuan di Pesantren Al-Fatah. Susi menolak untuk didefinisikan kembali secara paksa menjadi laki-laki di akhir hayatnya.

“Maafkan aku, Suryo… Maafkan ayah..,” batin Kusno menjerit dalam kesunyian jiwanya yang hancur.

Air mata penyesalan yang selama sepuluh tahun ini ia tahan di balik keangkuhan syariat akhirnya tumpah membasahi pipinya yang keriput. Kusno menyadari kesalahannya yang sangat besar. Egonya selama ini telah membutakan matanya dari cinta kasih kemanusiaan. Ia dahulu mengusir Suryo hanya karena aturan kaku di kepalanya. Malam ini, ia hampir mengulangi kesalahan yang sama kepada Susi. Ia mencoba memaksakan syariat hanya demi memuaskan egonya sendiri sebagai mudin yang merasa paling suci.

Kusno kini tidak lagi peduli pada rumus matematika kematian yang kaku di kepalanya. Ia hanya ingin jasad ini mendapatkan kedamaian terakhirnya. Ia hanya ingin memohon ampun agar kutukan bayangan di cermin itu segera terangkat dari jiwanya.

Kusno jatuh terduduk di lantai semen yang basah oleh air sisa pemandian. Tubuhnya gemetar hebat di hadapan Shinta dan para transpuan yang kini berdiri karena panik melihat kondisi mudin sepuh itu.

“Pak Kusno, ada apa sebenarnya?” Shinta melangkah mendekat dengan wajah penuh kecemasan.

Kusno tidak menjawab pertanyaan Shinta. Ia menatap jasad Susi dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh kelembutan dan rasa bersalah yang mendalam.

“Nduk Susi…,” bisik Kusno dengan suara bergetar di sela tangisnya. “Maafkan aku. Aku hanya orang tua kaku yang bodoh.”

Kusno bangkit berdiri dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Ia mengambil sisa potongan kain kafan putih di atas meja kayu. Jemarinya yang keriput mulai merobek kain itu secara perlahan. Ia tidak lagi menggunakan metode tiga lapis kain untuk laki-laki. Ia membentuk potongan kain kafan sisa itu menjadi layaknya kebaya sederhana.

Ia meletakkan lembaran kain berbentuk kebaya itu di atas dada Susi dengan penuh kelembutan. Ia memutuskan mengafani Susi dengan cara perempuan.

Begitu kain berbentuk kebaya itu menyentuh kulit Susi, sebuah keajaiban magis terjadi di dalam ruangan.

Persendian tangan Susi yang semula sekeras besi cor mendadak melunak dengan sangat anggun. Kedua tangan itu melipat dengan sempurna bersedekap di atas dadanya. Wajah Susi yang semula kaku dan tegang kini tampak sangat tenang. Sudut bibirnya yang menyisakan gincu merah tipis tampak melengkung, membentuk senyuman damai yang sangat indah.

Bayangan Suryo di dalam cermin seng perlahan memudar lalu lenyap sepenuhnya. Kamar mandi kembali menjadi sunyi dan tenang. Air di lantai semen kini mengalir normal menuju selokan pembuangan di luar ruangan. Bau wangi melati murah perlahan berganti menjadi keharuman alami yang sangat lembut dan menenangkan.

Fajar hampir menyingsing di ufuk timur Kotagede. Cahaya biru keperakan mulai mengusir kegelapan malam. Sebuah mobil ambulans putih terparkir di depan gerbang masjid tua Kotagede. Shinta dan teman-temannya menggotong keranda kayu Susi masuk ke dalam ambulans dengan tenang. Jenazah Susi akan segera dibawa menuju TPU Jalan Pramuka untuk dimakamkan secara layak.

Shinta melangkah kembali ke dalam ruang pemandian yang kini sudah bersih dan rapi. Ia melihat Pak Kusno yang masih termenung lemas di atas lantai semen yang basah.

“Terima kasih banyak, Pak Kusno,” ujar Shinta dengan tulus. “Jenengan sudah memberikan hak terakhir Susi sebagai manusia.”

Shinta merogoh saku tas kainnya. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil yang sudah usang dan basah karena air hujan malam sebelumnya.

“Susi menitipkan ini sebelum dia ambruk di trotoar jalanan dua hari lalu, Pak,” bisik Shinta perlahan. “Dia bilang, jika dia mati nanti, tolong serahkan bungkusan ini kepada mudin tertua di Kotagede. Dia tidak punya keberanian untuk mengetuk pintu rumah jenengan saat dia masih bernapas.”

Kusno menerima bungkusan plastik kecil itu dengan tangan yang gemetar hebat. Dadanya mendadak merasa sangat sesak bagai dihantam batu besar.

Shinta berpamitan dengan sopan lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan pemandian. Mobil ambulans perlahan bergerak menjauh, meninggalkan keheningan fajar di Kotagede yang dingin.

Kusno membuka bungkusan plastik itu dengan sangat perlahan di bawah temaram cahaya fajar. Di dalamnya terdapat sebuah kartu identitas lama yang sudah usang dan terkelupas di beberapa bagian sudutnya. Itu adalah selembar Kartu Tanda Penduduk.

Kusno menatap foto di KTP tersebut dengan mata yang mendadak membelalak lebar. Air matanya seketika tumpah tanpa bisa ditahan lagi.

Foto di KTP itu menunjukkan wajah seorang pemuda tampan berambut cepak yang sedang tersenyum ramah ke arah kamera. Di bawah foto itu tertulis sebuah nama dengan sangat jelas: Suryo.

Suryo tidak pernah mati mengenaskan di Jakarta sepuluh tahun lalu seperti semua rumor jalanan yang selama ini Kusno dengar. Suryo rupanya pulang kembali ke Yogyakarta. Ia mengganti namanya menjadi Susi, bergabung dengan Pesantren Al-Fatah di Kotagede, dan hidup berjuang di bawah hidung Kusno selama bertahun-tahun. Namun, Kusno tidak pernah mengenalinya karena kebencian dan keangkuhan dogma yang telah membutakan mata dan hatinya selama ini.

Kusno memeluk erat-erat KTP usang itu di dadanya yang berguncang hebat. Tangisnya pecah di tengah kesunyian fajar Kotagede yang dingin dan sunyi. Penyesalannya kini menjelma menjadi lubang hitam yang tak akan pernah bisa ditutup kembali hingga akhir hayatnya.

Kusno perlahan berdiri dengan sisa kekuatannya yang hampir habis. Ia melangkah mendekati cermin seng di dinding kanan. Cermin itu kini merefleksikan wajahnya sendiri yang tampak sangat tua, keriput, hancur, dan dipenuhi oleh rasa bersalah yang abadi.

Dari sela jemarinya yang masih basah oleh sisa air pemandian, wangi minyak wangi melati murah jalanan Malioboro menguar dengan sangat lembut. Wangi melati itu seolah berbisik di udara malam, membawa pesan maaf dan kedamaian dari sepotong bayang-bayang yang kini telah pergi untuk selamanya menuju keabadian.

Tinggalkan Balasan