“Kalau takmir masjid sebelah menganggap jasad ini najis, biar saya yang menyeretnya ke liang lahat. Tapi jangan harap saya sudi membalut dada bergelambir buatan itu dengan kain jarit perempuan,” desis Kusno.
Jemari Kusno yang keriput mengikir kuku mayat dengan kasar. Matanya yang mulai menguning akibat katarak, menatap keranda kayu kusam di lantai semen Kotagede. Keranda itu teronggok basah oleh sisa gerimis malam yang membawa bau tanah.

Bagi Kusno, kematian adalah rumus matematika yang mutlak: laki-laki dibungkus tiga lapis kain putih tanpa jahitan, perempuan lima lapis. Ia tidak peduli jika sepanjang hidupnya orang di dalam keranda itu berdandan dengan gincu murah Malioboro dan dipanggil ‘Susi’ oleh sesama transpuan di Pesantren Al-Fatah.
Malam ini, di bawah temaram lampu minyak yang bergoyang ganjil, Kusno bertekad mengembalikan raga preman jalanan itu menjadi ‘Slamet’, pemuda tulen sesuai nama lahirnya. Bahkan jika ia harus mematahkan tulang selangka mayat itu agar muat dalam kafan lelaki yang sempit.
Ruang pemandian itu sempit. Letaknya di sudut paling belakang dari kompleks masjid tua. Dinding semennya lembap. Lumut hijau tumbuh subur di sela ubin bawah. Udara malam Kotagede berembus masuk melalui ventilasi kayu yang rapuh. Bau kapur barus terasa sangat tajam. Bau itu bercampur dengan aroma tanah basah dari luar.
Kusno sudah berumur tujuh puluh tahun. Semua orang di Kotagede mengenalnya sebagai mudin paling lurus. Ia dingin. Ia tidak pernah banyak bicara saat bekerja. Tangannya sudah menyucikan ribuan tubuh tak bernyawa. Baginya, setiap tubuh mati hanyalah tumpukan daging. Jiwanya sudah pergi menghadap Sang Pencipta. Kewajiban manusia hidup hanyalah membersihkan sisa dunia dari raga tersebut.
Namun, malam ini berbeda. Jantung Kusno berdegup lebih kencang dari biasanya. Dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang bergolak di dalam sana. Rasa bersalah yang lama terpendam mendadak bangkit kembali. Ingatan lama itu menyeruak paksa.
***
Sepuluh tahun yang lalu, sebuah prahara menghancurkan rumahnya. Kusno mengusir Suryo. Suryo adalah anak laki-laki satu-satunya. Alasan pengusiran itu sangat sederhana bagi Kusno yang kaku. Ia menemukan gincu merah di laci meja Suryo. Ia juga menemukan selembar kebaya sutra di bawah kasur anaknya. Bagi Kusno, itu adalah aib yang tidak termaafkan. Ia berteriak murka malam itu. Ia melemparkan kebaya itu ke wajah Suryo. Ia menyuruh anaknya pergi dan tidak usah kembali.
Suryo pergi malam itu juga. Ia membawa tas kecil di bawah guyuran hujan lebat Kotagede. Beberapa tahun kemudian, sebuah kabar angin sampai ke telinga Kusno. Suryo dikabarkan tewas mengenaskan di jalanan Jakarta. Jasadnya dibuang begitu saja tanpa identitas. Kusno tidak pernah memandikan anaknya. Ia tidak pernah menguburkan Suryo secara layak. Peristiwa itu menjadi luka yang membusuk di dadanya.
Sejak hari itu, Kusno berubah. Ia menderita ketakutan yang aneh. Ia fobia terhadap cermin. Ia juga takut melihat bayangan di permukaan air yang tenang. Kusno selalu memandikan mayat dengan mata setengah terpejam. Ia menolak menatap wajah jasad terlalu lama. Sebelum memulai pemandian, ia selalu membalikkan semua cermin di ruangan itu. Ia takut melihat wajah Suryo menuntut balas dari balik kaca buram.
***
Lampu badai di dinding bergoyang perlahan. Minyak tanah di dalamnya hampir habis. Shinta berdiri di dekat pintu kayu. Tubuhnya basah kuyup oleh sisa hujan. Di belakangnya, tiga orang transpuan lain berdiri dengan kepala tertunduk. Mereka adalah santri dari Pesantren Al-Fatah. Wajah mereka tampak sangat lelah. Mereka sudah berjalan jauh malam ini.
“Kami sudah ditolak di tiga kampung, Pak Kusno,” kata Shinta dengan suara gemetar. “Takmir masjid di sana mengusir kami. Mereka bilang Susi membawa sial. Mereka tidak sudi menyentuh jasadnya.”
Kusno tidak menoleh. Ia tetap fokus mengikir kuku jasad Susi. “Saya tidak peduli dengan takmir masjid lain. Di sini, saya yang memutuskan. Tapi, aturan saya tidak bisa ditawar. Dia lahir sebagai laki-laki. Namanya Slamet. Saya akan mengafaninya sebagai laki-laki.”
Shinta menghela napas panjang. Ia menatap jasad rekannya dengan sedih. Susi adalah orang baik. Ia hanya mencari nafkah sebagai pengamen di perempatan jalan. Namun, masyarakat tetap memandangnya sebelah mata. Bahkan, saat sudah mati pun, diskriminasi itu tidak hilang. Shinta akhirnya mengangguk pelan. Ia memilih untuk diam di sudut ruangan bersama teman-temannya. Mereka mulai membaca doa dengan suara lirih.
Kusno mulai menyiapkan air pemandian. Ia mengambil gayung plastik besar. Baskom hitam diisi dengan air bersih dari keran kuningan. Air itu dingin sekali. Kusno memasukkan segenggam daun bidara ke dalam baskom. Ia meremas daun-daun itu hingga air berubah warna menjadi kehijauan. Bau khas daun bidara mulai menguar. Bau itu menutupi bau anyir yang sempat tercium dari tubuh mayat.
Kusno bergerak ke sudut ruangan. Ia mengambil sebongkah kapur barus. Ia menumbuknya menggunakan batu ulekan hingga menjadi bubuk halus. Pikirannya terus melayang ke masa lalu. Wajah Suryo seolah membayangi setiap gerakannya. Rasa bersalah itu kini mencengkeram lehernya. Ia menerima jasad Susi bukan karena kasihan. Kusno ingin menebus dosanya sendiri. Ia merasa, dengan menyucikan Susi kembali menjadi laki-laki, ia bisa memaafkan dirinya atas kematian Suryo.
Ia lupa satu hal penting malam ini. Karena tergesa-gesa, Kusno tidak memeriksa dinding ruangan dengan teliti. Sebuah cermin seng buram masih tergantung di sana. Cermin itu tidak dibalikkan. Permukaannya menghadap langsung ke arah bale pemandian kayu tempat jasad Susi terbaring.
Kusno kembali mendekati jasad. Tubuh Susi tampak sangat kurus. Tulang rusuknya menonjol di balik kulitnya yang pucat. Ada tato gambar bunga mawar di lengan kanannya. Tato itu dibuat dengan tinta murahan yang sudah pudar. Bibir Susi masih menyisakan rona merah gincu yang tipis. Gincu itu dipakai sebelum ia ambruk di jalanan dua hari lalu.
Kusno mengambil gunting besar. Ia mulai menggunting kaus oblong tipis yang dikenakan Susi. Kain basahan diletakkan di atas bagian paha jasad untuk menjaga aurat. Kusno melakukan semua itu dengan mata setengah terpejam. Ia menjaga agar pandangannya tetap kabur. Ia tidak ingin melihat wajah jasad itu secara utuh.
Ia mengangkat gayung pertama. Air bidara yang dingin disiramkan ke dada jasad Susi. Air mengalir membasahi kulit yang sedingin es.
Tiba-tiba, angin malam berembus sangat kencang. Ventilasi kayu berderit keras. Embusan angin itu langsung meniup padam lampu minyak di sudut ruangan. Ruangan pemandian seketika menjadi gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya bulan dari luar yang menembus celah dinding. Cahaya itu berwarna perak kebiruan yang ganjil.
