Di era media sosial, kecepatan sering kali mengalahkan kedalaman. Fenomena ini tampak jelas dalam cara masyarakat mengonsumsi wacana keagamaan. Fatwa yang dahulu lahir melalui proses panjang—perdebatan ilmiah, kajian maqasid, dan pertimbangan etika—kini berubah menjadi konten instan yang disebarkan melalui TikTok, Instagram, atau YouTube. Tidak jarang, potongan video 30 detik lebih diandalkan daripada kitab ulama berhalaman tebal. Fenomena ini membuka ruang bagi “budaya viral” untuk ikut membentuk makna keagamaan.
Di sinilah pemikiran Michel Foucault menjadi relevan. Dalam Power/Knowledge (1980), Foucault menyatakan bahwa kebenaran bukan entitas netral; ia diproduksi melalui relasi kuasa. Kebenaran tidak berdiri di ruang hampa, melainkan dibentuk oleh institusi, diskursus, dan mekanisme sosial. Jika dulu otoritas keagamaan berada di tangan ulama dan lembaga fatwa, kini algoritma ikut menentukan apa yang dianggap benar oleh publik.

Budaya viral memberi ruang bagi produksi kebenaran baru yang sering kali tidak melalui verifikasi ilmiah. Pada 2024, misalnya, sebuah potongan video tentang “haramnya mengucapkan selamat ulang tahun” kembali viral di berbagai platform. Cuplikan itu menampilkan pernyataan seorang penceramah yang menolak tradisi tersebut dengan alasan dianggap menyerupai budaya non-Muslim. Padahal, sejak 2011 banyak ulama dan lembaga fatwa, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) di beberapa daerah, telah menjelaskan bahwa pemberian ucapan ulang tahun diperbolehkan selama dimaknai sebagai doa kebaikan, bukan ritual agama tertentu.
Namun, algoritma tidak mempertimbangkan klarifikasi ilmiah terhadap hal tersebut. Video yang memicu perdebatan dan kemarahan jauh lebih cepat naik ke beranda. Akibatnya, masyarakat kembali terbelah, sebagian merasa berdosa hanya karena mengucapkan selamat, sementara yang lain sibuk membalas dengan argumen tandingan. Dalam situasi ini, suara ulama yang telah menjelaskan duduk persoalan tenggelam oleh popularitas video pendek.
Dalam perspektif Foucault, inilah “regime of truth”—rezim kebenaran baru yang dibentuk bukan oleh argumentasi, tetapi oleh mekanisme distribusi informasi. Dalam konteks hari ini, rezim itu dikendalikan oleh logika platform digital: yang viral dianggap benar, yang ilmiah sering tenggelam.
