Setidaknya, fenomenologi kemerosotan pesantren di putaran revolusi bumi kemarin telah mensolek kesalehan artifisial di tengah masyarakat, bagaimana pesantren berikut kiprah keumatan kembali diuji dalam sebuah catur permasalahan yang berkelindan silih ganti. Proses kognitif kita tentu akan melahirkan represantamen baru terhadap kultus pesantren, yakni konseskuensi sakralitas ketokohan (role consequence) dan dilema kultural umat dalam memberikan legitimasi terhadap lembaga keagamaan (culture education).
Konsekuensi Simbolisme Kiai

Sejatinya, manusia hidup dengan simbol-simbol (Ernst Cassirer: 18747-1945). Sifat instriksional manusia dalam berintraksi dengan sesama yang tidak mampu mereka gambarkan secara retorik telah melahirkan simbolisme tentang sesuatu. Simbol layaknya budaya, ia lahir dari proses dialektik umat manusia dalam mencari suatu justifikasi pembenaran kolektif dalam ruang geofilosofis. Selaras dengan ungkapan Cak Nun, bahwa simbol adalah suatu kesepakatan-kesepakatan yang secara sadar dibuat manusia dalam mengilustrasikan hal yang adiluhung. Oleh karena kesepakatan, entitasnya penuh nilai dan renungan.
Simbol mengajarkan hal primordial dari sisi manusia sebagai makhluk rasional (the animal of rationale). Peradaban simbol dalam tatanan kosmo yang fana ini (al-kaun) juga meliputi simbolisme Ilahi bagaimana Tuhan menunjukkan tanda kebesaran-Nya melalui ayat fenomenologis yang memerlukan telaah dan kesadaran (kauniyah). Tidak ayal jika dalam Al-Quran banyak dijumpai ungkapan retoris “afala ta’qilun”, “afala tatafakkarun”, atau “afala yatadabbarun” yang memantik daya pikir manusia dan kesadaran simbolisme (animal syoblocium).
