Simbolisme kiai menunjukkan hal yang sakral. Nomenkaltur ini disematkan tidak hanya terbatas pada ketokohan (manusia), melainkan juga bisa berupa benda, hewan, atau senjata (Ibda, 2021). Kiai dalam rupa senjata seperti Kiai Setan Kober milik Arya Penangsang (abad-16). Kiai dalam wujud hewan seperti Kiai Slamet kerbau bule pepunden keramat di keraton Solo (1744). Kiai dalam benda bisa berbentuk gamelan seperti Kiai Guntur Sari yang sering mewarnai perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (1643 M).
Kesakralan menghiasi simbol kiai. Ia tidak disematkan kecuali pada hal yang bertuah. Kiai adalah simbolis umat yang menjukkan ekspresi pengetahuan dan karya kebudayaan para luhur terdahulu. Kesepakatan manusia terhadap simbol kiai—dalam arti wujud manusia—menempatkan seseorang pada hierarki piramida ketokohan pertama, yang pada gilirannya tamsil religius dengan tendensi hedonisme personal membangun alingan yang meleburkan ahistoris makna kiai dalam monopoli percaturan budaya hegemoni.

Kiai yang kita kenal saat ini adalah manusia yang ‘alim dan ‘allamah yang pada realitasnya menjadi tokoh dalam masyarakat. Hal subtil setelah simbol kiai dipersempit pemaknaannya, adalah sakralitas yang terus bersandar dalam petanda-nya. Kesakralan kiai dalam wujud manusia terletak bagaimana ia dijadikan sebagai patron sosio-keagamaan (social leader, murabbi) di mana sikap dan wacana oral (dawuh) diijabah oleh masyarakat. Sematan kiai bukan kehendak personal, tetapi penghargaan kolektif masyarakat atas dedikasi keumatan yang diberikan, termasuk di dalamnya kiai pesantren.
Fenomena sensasional antara kiai dan santrinya di Bandung (2021) telah memberikan suatu tendensi tegas tentang lunturnya makna sakralitas yang disandang kiai. Ia seolah dipenjara dalam makna kepentingan. Penyematan simbolisme kiai sekarang cenderung kaku dan prestise semu karena timbul dari pengakuan “struktur kelembagaan”, bahkan tanpa memilah kesahalehan tokoh yang murni berdasarkan tatanan hati atau sekadar fiktif untuk membangun atensi.
