Terakhir yaitu, ausdruck, yang dikenal dengan “ekspresi” atau “ungkapan”. Ekspresi merupakan pengejewantahan dari kondisi mental seseorang, yang mana dalam hal ini seseorang mampu menginterpretasikan ekspresi atau gesture dari seseorang. Selain ekspresi, untuk mampu menginterpretasikan fenomena, juga bisa dilakukan dengan melihat keseharian seseorang (F. Budi Hardiman, 2015: 84).
Riya’ Digital dengan Hermeneutika Dithley

Perubahan pola pikir, yang menjadi salah satu aspek fundamental yang terpapar di era teknologi digital, termanifestasikan dengan konversi perilaku yang bercorak modernis. Hal itu tidak memutus kemungkinan masuk ke dalam ranah peribadatan.
Agaknya, sudah tidak menjadi hal tabu lagi melihat berita-berita kebohongan menyebar, gosip merajalela, tebar-tebar maksiat, dan bentuk kemadharatan lainnya media sosial (Naili Izza, dkk, 2022: 79).
Dengan banyaknya aplikasi yang variatif, seperti Whatssap, Instagram, X (Twitter), Telegeram, dan masih banyak lagi, memberikan peluang besar kepada seseorang untuk mampu memublikasikan kegiatannya kepada khalayak ramai.
Contoh kecil, jika seseorang memublikasikan aktivitasnya yang bertendensi kepada kebaikan, seperti salat, membaca Al-Qur’an, mengikuti pengajian, dan lainnya, dengan tujuan untuk memperlihatkan citra dirinya kepada khalayak ramai, maka hal itu bisa terindikasi denan perbuatan riya’. Akan tetapi, untuk mengobjektifikasikannya, akan lebih baik jika kita menggunakan analisis hermeneutika Dikthey sebagai ojek formalnya.
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ
“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”
Metodologi hermeneutika Dilthey, agaknya mampu memberikan konstruksi logis terhadap proses interpretasi fenomena riya’ dalam penggunaan teknologi digital. Metode verstehen, erlebnis, dan ausdruck yang dipaparkan Dilthey memberikan konstruksi logis dan sistematis dalam penginterpretasian fenomena riya’ dalam masyarakat modern.
Untuk lebih memberikan kepemahaman terhadap pembaca, penulis ingin menautkan suatu kasus. Yaitu terhadap fenomena maraknya masyarakat yang tidak merasa puas jika kegiatan peribadatannya tidak dipublikasikan melalui media sosial. Dalam kasus tersebut, hermeneutika Dilthey dapat digunakan untuk melakukan pembacaan.
Pertama, Verstehen. Dalam usaha memahami keadaan mental atau psikolog seseorang, perlu ditelisik lebih dalam perihal keseharian seseorang yang menjadi objek kajian. Yang perlu diperhatikan di sini adalah representasi digital yang ditampakkan seseorang dan perilaku kesehariannya secara reguler. Jika seseorang tidak benar-benar menampakkan seperti halnya yang dipublish dalam whatsapp, facebook, Instagram, dan lainnya, maka terdapat probabilitas seseorang itu terbesit mencari sanjungan dari orang lain.
Dalam tahap pertama dengan mengimplementasikan hermeneutika Dilthey untuk menganlisis riya’ ini belum mampu memberikan gambaran kompleks. Kendati demikian, proses verstehen ini cukup mampu membeirkan ilustrasi sederhana dan umum terhadap perilaku riya’ di teknologi digital.
Kedua, Erlebnis. Dalam proses menghayati, secara sadar maupun tidak kita akan memberikan kesimpulan terhadap fenomena di sekitar kita. Penghayatan disini akan terimplementasi dari fenomena yang ditampakkan orang lain. dalam konsep riya’, terdapat pra-konsepsi yaitu كسالى, karakter orang yang bermalas-malasan. Kesadaran kita secara tidak langsung akan mencoba menghayati dan membandingkan atas perilaku seseorang yang terepresentasi di media sosial dan kenyataan. Dari sana akan terbentuk suatu konstruk pengetahuan terhadap orang lain.
Dalam proses erlebnis yang kita diajak untuk memu merenungi, menghayati, mentadabburi, fenomena-fenomana yang ada di sekitar kita. Secara tidak langung kita akan dituntut untuk memilik kepekaan sosial yang tinggi. Akan tetapi, perlu diingat bahwa upaya ini buka merupakan satu tindakan buruk yang ebrusaha mengumbar aib seseorang. Melainkan untuk membantu manusia dalam mengkonstruksi secara logs fenomena sekitar.
