Ketiga, Ausdruck, atau membaca gestur, ekspresi atau ungkapan dari seseorang. Selaras dengan lafaz كسالى tersebut, bahwa sejatinya seseorang harus mampu bertanggung jawab atas apa yang dikatakan. Seseorang juga harus secara benar-benar beribadah dengan niat ikhlas, tanpa sanjungan orang lain. Jika kemurnian ibadah itu ada, maka sewajarnya seseorang akan merasa cukup peribadatannya hanya diketahui oleh allah sebagai sasaran utamanya. Sehingga, perilaku memublikasikan amalan baiknya menjadi satu hal yang kurang baik, disamping akan munculnya anggapan-anggapan negatif dari orang lain.
Di sisi lain, kita tidak bisa meng-generalisir semua tayangan media sosial yang berbentuk ritual peribadatan sebagai fenomena riya’. Ibadah yang dipublikasikan bisa terindikasi dengan niatan dakwah, bukan riya’. Hal itu akan terungkap setelah melalui proses analitis seperti halnya yang dipaparkan penulis diatas terhadap fenomena riya’. Atau juga dengan media analitis yang lain.

Pemahaman secara metodologis, dengan mengedepankan aspek-aspek pegetahuan yang sistematis, memang akan berdampak pada kehidupan sosial. Hal itu juga yang diinginkan oleh Dilthey dalam konsep Hermeneutikanya. Objektifikasi sosial sangat perlu untuk diimplementasikan karena hal ini berpengaruh pada dinamika kehiduan yang ada.
Mengimlementasikan heremeneutika Dilthey sebagai objek formal dalam proses telaah riya di Media Sosial, juga merupkaan suatu pelajarn penting bagi umat. Selain untuk membantu umat dalam berpikir logis sistematis, juga meminimalisir fenomana-fenomena riya dengan memanfaatkan tayangan digital.
Kesimpulan
Riya’ memang sejenis tindakan yang bersifat tersembunyi di dalam hati. Karena tidak ada yang mengetahui hakikat perbuatan seseorang. Akan tetapi, tulisan ini ingin mengingatkan kepada para pembaca bahwa segala sesuatu bisa dianalisis secara kritis dengan metode yang benar, serta dalam melakukan amalan baik, luruskan hati kepada Allah. Sehingga, ia tidak perlu untuk mempublikasikan hal tersebut kepada orang lain, keculai untuk berdakwah. Karena identitas yang melekat pada sebenar-benarnya hamba adalah merasa cukup dengan ibadahnya yang hanya diketahui oleh Allah SWT.
Daftar Pustaka
Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya, Mu’jam Maqayis al-Lughah II. Mesir. Mustafa al- Babi. 1990.
Abu Hamid al-Ghazali. Ihya’ Uluumu al-Din, vol II. Beirut. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. 1995.
Edi Susanto. Studi Hermeneutika. Jakarta. Kencana. 2016.
Budi Hardiman. Seni Memahami. Yogyakarta. Kanisius. 2015.
Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahros Li al-Fadz Al-Qur’an al-Karim,. Beiru. ar al- Fikr. 1991.
Naili Izza, dkk. Berislam dan Tantangannya di Era Kontemporer. Semarang. Alinea Media Dipantara. 2022.
