Teriring salam takzim.
Maafkan kami yang fakir ilmu ini, Syekh, harus menulis surat kepada panjenengan dari sebuah zaman yang barangkali sangat berbeda dengan zaman ketika panjenengan mengajar di Masjidil Haram.

Tidak, Syekh, surat ini bukan hendak mengadukan keadaan umat yang hari-hari ini sering membuat kami bingung. Kami juga tidak hendak mengeluhkan mengapa semakin banyak orang pandai berbicara tentang agama lengkap dengan dalil dan kutipan-kutipan kitab, tetapi pada saat yang sama sering kali membuat kami merasa semakin jauh dari mata air yang menjadi inti ajaran agama itu sendiri.
Surat ini, Syekh, tidak kami tulis untuk melaporkan jalannya Festival Dunia Santri 2026 yang diinisiasi jejaring duniasantri, yang perjalanannya telah dimulai sejak 19 April dan akan berakhir pada 28 Oktober 2026 nanti. Sebab apa yang hendak kami ceritakan bukanlah tentang acara, panggung, atau keramaian yang menyertainya. Yang ingin kami ceritakan adalah perjalanan ingatan; bagaimana nama panjenengan yang dahulu hanya kami dengar dalam tawasul di langgar kampung, perlahan menjelma menjadi jejak panjang yang menghubungkan masa kecil kami, dunia pesantren, dan kecintaan kepada ilmu pengetahuan.
Sebab setiap kali nama panjenengan disebut, yang hadir dalam ingatan kami bukan hanya seorang ulama besar dari Banten, melainkan juga wajah-wajah sederhana yang pertama kali memperkenalkan nama itu kepada kami.
Maka surat ini sesungguhnya lahir dari kerinduan. Kerinduan kepada suara para guru ngaji kampung yang dahulu menyebut nama jenengan dengan penuh hormat sebelum pelajaran dimulai. Kerinduan kepada malam-malam selepas Magrib ketika dunia terasa jauh lebih sederhana daripada hari ini; ketika ilmu tidak diukur dari banyaknya pengikut, jumlah penonton, atau seberapa sering seseorang muncul di layar telepon genggam. Sebuah masa ketika seorang guru ngaji kampung begitu dihormati bukan karena popularitasnya, melainkan karena kesabaran dan keikhlasannya mengajari anak-anak mengeja huruf-huruf Al-Qur’an, membimbing mereka mengenal adab sebelum ilmu, serta memperkenalkan nama-nama ulama yang bahkan belum mereka pahami. Dari merekalah, jauh sebelum kami mengenal kitab-kitab karya dan memahami perjalanan panjang kehidupan panjenengan, nama Syekh Nawawi Al-Bantani pertama kali memasuki hidup kami dan perlahan menetap dalam ingatan.
Sebab jauh sebelum kami mengenal nama panjenengan, Syekh Nawawi Al-Bantani, jauh sebelum kami mengerti bahwa panjenengan adalah Sayyidul Ulama Hijaz, jauh sebelum kami tahu bahwa kitab-kitab karya panjenengan diajarkan di berbagai pesantren Nusantara hingga hari ini, nama panjenengan telah lebih dahulu hadir dalam hidup kami.
Yang unik, Syekh, cara guru ngaji kami memperkenalkan nama panjenengan bukan melalui kisah panjang tentang kehidupan panjenengan, bukan pula melalui pelajaran sejarah yang rumit. Nama panjenengan pertama kali hadir melalui tawasul yang dibacakan sebelum pelajaran dimulai. Dengan suara pelan dan penuh khidmat, satu demi satu nama para ulama disebutkan.
Nama-nama itu melintas begitu saja di telinga kami yang masih kanak-kanak. Kami tentu tidak memahami siapa mereka. Kami tidak mengenal wajah-wajah mereka. Kami bahkan belum mengerti mengapa nama orang-orang yang telah lama wafat harus disebut sebelum kami mulai belajar membaca Al-Qur’an atau mengaji kitab.
Namun setiap kali tawasul dibacakan, nama-nama itu kembali hadir, berulang-ulang, hingga tanpa kami sadari perlahan menetap dalam ingatan. Baru bertahun-tahun kemudian kami memahami bahwa nama-nama yang dahulu terdengar asing itu sesungguhnya adalah mata rantai panjang yang menghubungkan ilmu yang kami pelajari dengan para guru yang telah mendahului kami. Dan di antara nama-nama itu, nama panjenengan selalu disebut dengan penghormatan yang terasa berbeda, seakan para guru kami sedang memperkenalkan kepada kami seseorang yang sangat jauh, tetapi sekaligus sangat dekat.Tetapi nama itu terus berulang.
Syekh Nawawi Al-Bantani.
Syekh Nawawi Al-Bantani.
Syekh Nawawi Al-Bantani.
Nama itu, Syekh, perlahan menetap dalam ingatan, jauh sebelum kami mengenal sejarah kehidupan panjenengan. Bertahun-tahun lamanya, nama itu hanya kami dengar berulang-ulang dalam tawasul, tanpa benar-benar memahami siapa sosok yang sedang disebut dengan penuh hormat oleh guru-guru kami.
Baru ketika usia mulai bertambah dan kami memasuki dunia pesantren, kami menyadari bahwa nama yang sejak kecil akrab di telinga kami itu ternyata berada di tengah sebuah gugusan ulama besar yang membentuk wajah Islam. Dari majelis ilmu panjenengan lahir para ulama yang kemudian menyalakan cahaya di daerahnya masing-masing: Syaikhona Kholil di Bangkalan, KH Saleh Darat di Semarang, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Jombang, KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi di Termas, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di tanah Minang, KH Mas Abdurrahman, hingga Mama Sempur di tanah Sunda. Saat itulah kami mulai mengerti bahwa nama yang dahulu terdengar asing itu sesungguhnya berada di hulu sebuah mata air ilmu yang mengalir ke berbagai penjuru Nusantara melalui murid-murid dan karya-karya yang jenengan tinggalkan.
Namun jejak panjenengan tidak hanya kami temukan pada nama-nama besar para ulama yang memenuhi halaman-halaman sejarah pesantren. Jejak itu juga kami jumpai secara lebih dekat melalui kitab-kitab yang menjadi teman perjalanan kami dalam menuntut ilmu. Dari pengajian ke pengajian, dari satu halaman ke halaman berikutnya, nama jenengan kembali hadir menemani proses belajar kami.
