Festival Dunia Santri 2026 (3): Kepada Yang Mulia Syekh Nawawi Al-Bantani

Kami bertemu panjenengan dalam Nurrudh Dhalam. Kami berjumpa lagi dalam Marah Labid. Kami menemukan jejak panjenengan jenengan dalam Kasyifatus Saja. Kami menyapa panjenengan dalam Safinatun Naja. Melalui kitab-kitab itulah kami perlahan menyadari bahwa seorang ulama sesungguhnya tidak hanya hidup melalui murid-muridnya, tetapi juga melalui ilmu yang dituliskannya, yang terus dibaca, diajarkan, dan diwariskan kepada generasi-generasi yang datang jauh sesudah zamannya.

Kadang kami memahami isi kitab-kitab itu, kadang tidak. Bahkan jika harus jujur, lebih sering tidak paham daripada paham. Namun ketidakpahaman itu tidak serta-merta membuat kami menjauh. Sebaliknya, ia justru mengajarkan kepada kami bahwa ilmu adalah perjalanan yang panjang dan tidak selalu dapat ditaklukkan dalam sekali baca. Karena itu, seperti anak kecil yang berjalan di tepi sungai tanpa mengetahui dari mana sumber air berasal, kami terus menikmati aliran ilmu yang mengalir di hadapan kami. Baru belakangan kami menyadari bahwa aliran yang kami ikuti itu ternyata bersumber dari mata air yang jauh, melewati banyak guru, banyak pesantren, dan banyak generasi. Dan di antara mata air besar yang terus menghidupi aliran ilmu itu, berdirilah nama panjenengan, Syekh, yang jejaknya kami temukan berulang kali dalam kitab-kitab yang kami pelajari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kini, setelah usia tidak lagi muda, justru penyesalan itu datang. Kami menyesal tidak sungguh-sungguh membaca banyak kitab yang telah panjenengan tulis. Kami menyesal sering merasa cukup hanya dengan membaca ringkasan-ringkasan. Kami menyesal lebih sibuk mengikuti perdebatan agama daripada menekuni dasar-dasar ilmu yang menjadi fondasinya. Padahal semakin jauh kami menelusuri jejak para ulama, semakin kami menyadari bahwa keluasan ilmu tidak pernah lahir dari jalan yang tergesa-gesa. Ia tumbuh perlahan melalui kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Barangkali karena itulah kami semakin menghormati jalan yang telah jenengan tempuh. Sebab panjenengan tidak hanya meninggalkan kitab-kitab yang terus dibaca hingga hari ini, tetapi juga meninggalkan teladan tentang bagaimana ilmu diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dari majelis-majelis ilmu yang panjenengan asuh di Makkah lahir orang-orang yang kelak menjadi cahaya bagi zamannya. Mereka tidak hanya mewarisi pengetahuan, tetapi juga mewarisi adab, ketekunan, dan keluasan pandangan yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada umat.

Menariknya, semakin tinggi ilmu mereka, semakin teduh pula cara mereka memandang perbedaan. Mereka tidak dikenang karena gemar menyalahkan orang lain. Mereka tidak dikenang karena rajin mencari kesalahan pihak yang berbeda. Mereka dikenang karena keluasan ilmu, kedalaman akhlak, dan kesediaan mengabdikan hidupnya untuk umat.

Yang membuat kami semakin sedih adalah kenyataan bahwa guru-guru ngaji kampung mulai dilupakan. Mereka yang mengajari kami mengeja huruf hijaiyah satu per satu mulai kehilangan tempat dalam ingatan masyarakat. Mereka yang dahulu memegang tangan kami ketika belajar membaca Al-Qur’an sering tidak disebut dalam panggung-panggung besar keagamaan.

Mereka yang mengajari kami adab sebelum ilmu justru kalah populer dibanding pendakwah yang viral beberapa menit di media sosial. Entah sejak kapan ukuran kemuliaan berubah menjadi jumlah penonton. Entah sejak kapan jumlah pengikut dianggap lebih penting daripada kedalaman ilmu. Padahal jika ditelusuri lebih jauh, seluruh jalan ilmu itu bermula dari orang-orang sederhana seperti guru ngaji kampung.

***

Hari ini, tanggal 3 hingga 4 Juni, kerinduan yang selama ini hanya berdiam dalam ingatan seakan menemukan jalannya sendiri. Kami akan bersilaturahmi ke tanah kelahiran panjenengan, Syekh, ke Banten. Selama ini kami mengenal tanah itu bukan terutama melalui peta atau perjalanan, melainkan melalui kitab-kitab yang kami pelajari, kisah-kisah yang dituturkan para guru, serta nama jenengan yang berulang-ulang kami dengar dalam tawasul sejak masa kanak-kanak.

Karena itu, Banten bagi kami bukan sekadar sebuah wilayah di ujung barat Pulau Jawa, melainkan sebuah ruang ingatan yang menyimpan jejak lahirnya seorang ulama besar. Dari tanah itulah Nusantara memperoleh seorang guru yang pengaruhnya tidak hanya menjangkau pesantren-pesantren di Jawa, Madura, dan berbagai daerah lain di kepulauan ini, tetapi juga menghadirkan jejak keilmuan yang menjalar hingga ke dunia Islam yang lebih luas.

Melalui Festival Dunia Santri 2026, kami akan kembali belajar tentang panjenengan. Bukan di Makkah, tempat panjenengan mengajar dan membimbing para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia. Bukan pula di Tanara, tempat langkah awal perjalanan panjang itu bermula.

Di sini kami akan mendengarkan kembali kisah tentang seorang ulama dari Banten yang jejaknya melampaui batas-batas geografis. Seorang ulama yang rumah sederhananya di Makkah menjadi tempat bertemunya para calon pemimpin umat dari berbagai daerah di Nusantara. Seorang ulama yang tidak mengangkat senjata untuk melawan kolonialisme, tetapi menanamkan keberanian melalui ilmu. Seorang ulama yang tidak berpidato di depan massa yang bergemuruh, tetapi membentuk karakter murid-muridnya melalui keteladanan. Seorang ulama yang tidak mendirikan partai politik, tetapi meletakkan fondasi moral yang kelak membantu membangun kesadaran kebangsaan Indonesia.

Yang membanggakan dari perhelatan ini, Syekh, adalah kehadiran para narasumber yang sebagian besar tumbuh dalam tradisi pesantren dan akrab dengan kitab-kitab karya panjenengan. Ada Prof. Mufti Ali, Ph.D., Dr. Hj. Eva Syarifah Wardah, M.Hum., Dr. Muhamad Shofin Sugito, M.A., Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, serta sastrawan Jamal D. Rahman yang bukunya, Islam, Sastra, Pengetahuan, akan menjadi salah satu bahan pembacaan dan diskusi.

Kami membayangkan mereka tidak hanya datang membawa pengetahuan akademik. Mereka juga membawa pengalaman panjang bergaul dengan tradisi keilmuan yang jejaknya bersambung sampai ke panjenengan. Mereka datang bukan sekadar sebagai pembicara.

Tinggalkan Balasan