Festival Dunia Santri 2026 (3): Kepada Yang Mulia Syekh Nawawi Al-Bantani

Teriring salam takzim.

Maafkan kami yang fakir ilmu ini, Syekh, harus menulis surat kepada panjenengan dari sebuah zaman yang barangkali sangat berbeda dengan zaman ketika panjenengan mengajar di Masjidil Haram.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak, Syekh, surat ini bukan hendak mengadukan keadaan umat yang hari-hari ini sering membuat kami bingung. Kami juga tidak hendak mengeluhkan mengapa semakin banyak orang pandai berbicara tentang agama lengkap dengan dalil dan kutipan-kutipan kitab, tetapi pada saat yang sama sering kali membuat kami merasa semakin jauh dari mata air yang menjadi inti ajaran agama itu sendiri.

Surat ini, Syekh, tidak kami tulis untuk melaporkan jalannya Festival Dunia Santri 2026 yang diinisiasi jejaring duniasantri, yang perjalanannya telah dimulai sejak 19 April dan akan berakhir pada 28 Oktober 2026 nanti. Sebab apa yang hendak kami ceritakan bukanlah tentang acara, panggung, atau keramaian yang menyertainya. Yang ingin kami ceritakan adalah perjalanan ingatan; bagaimana nama panjenengan yang dahulu hanya kami dengar dalam tawasul di langgar kampung, perlahan menjelma menjadi jejak panjang yang menghubungkan masa kecil kami, dunia pesantren, dan kecintaan kepada ilmu pengetahuan.

Sebab setiap kali nama panjenengan disebut, yang hadir dalam ingatan kami bukan hanya seorang ulama besar dari Banten, melainkan juga wajah-wajah sederhana yang pertama kali memperkenalkan nama itu kepada kami.

Maka surat ini sesungguhnya lahir dari kerinduan. Kerinduan kepada suara para guru ngaji kampung yang dahulu menyebut nama jenengan dengan penuh hormat sebelum pelajaran dimulai. Kerinduan kepada malam-malam selepas Magrib ketika dunia terasa jauh lebih sederhana daripada hari ini; ketika ilmu tidak diukur dari banyaknya pengikut, jumlah penonton, atau seberapa sering seseorang muncul di layar telepon genggam. Sebuah masa ketika seorang guru ngaji kampung begitu dihormati bukan karena popularitasnya, melainkan karena kesabaran dan keikhlasannya mengajari anak-anak mengeja huruf-huruf Al-Qur’an, membimbing mereka mengenal adab sebelum ilmu, serta memperkenalkan nama-nama ulama yang bahkan belum mereka pahami. Dari merekalah, jauh sebelum kami mengenal kitab-kitab karya dan memahami perjalanan panjang kehidupan panjenengan, nama Syekh Nawawi Al-Bantani pertama kali memasuki hidup kami dan perlahan menetap dalam ingatan.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan