Festival Dunia Santri 2026 (3): Kepada Yang Mulia Syekh Nawawi Al-Bantani

Maka, Syekh, dalam Studium General “Menghidupkan Api Nasionalisme Syekh Nawawi al-Bantani” yang akan dilangsungkan pada tanggal 4 Juni 2026 di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, sesungguhnya kami tidak sedang mencari nasionalisme dalam pengertian politik yang sempit.

Dalam acara di atas juga akan didiskusikan buku Islam, Sastra, Pengetahuan karya Jamal D. Rahman, yang dari situlah kami menemukan cara pandang yang menarik tentang panjenengan, Syekh. Bahwa nasionalisme Indonesia tidak semata-mata lahir dari rapat-rapat politik, organisasi modern, surat kabar, atau pidato-pidato yang menggugah massa. Ia juga tumbuh dari jaringan sanad. Dari ruang-ruang pengajian. Dari kitab-kitab yang dibaca berulang-ulang di pesantren. Dari hubungan batin antara guru dan murid yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari adab yang diajarkan sebelum ilmu. Dari kesabaran yang diwariskan sebelum keberanian. Dari ketekunan yang ditanamkan sebelum kepemimpinan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lewat buku itu pula kami baru menyadari bahwa rumah sederhana panjenengan di Makkah sesungguhnya tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama. Rumah itu juga menjadi semacam simpul yang mempertemukan calon-calon pemimpin umat dari Nusantara.

Di majelis panjenengan, para santri datang dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda. Mereka belajar fikih. Mereka belajar tauhid. Mereka belajar tafsir. Mereka belajar akhlak. Namun tanpa mereka sadari, mereka juga sedang menyerap satu nilai yang jauh lebih mendasar: Keberanian untuk menjaga martabat manusia. Keberanian untuk menolak segala bentuk penindasan. Keberanian untuk berdiri tegak sebagai umat yang merdeka.

Karena itulah Jamal D. Rahman dalam bukunya menyebut panjenengan sebagai salah satu rahim nasionalisme di Tanah Suci. Mula-mula kami terdiam ketika membaca kalimat itu. Sebab selama ini kami mengenal panjenengan terutama sebagai ulama, ahli tafsir, ahli fikih, dan guru para ulama Nusantara.

Tetapi melalui pembacaan itu kami mulai memahami bahwa sejarah kebangsaan Indonesia ternyata memiliki akar yang jauh lebih dalam daripada yang selama ini kami bayangkan. Nasionalisme yang lahir dari majelis ilmu. Nasionalisme yang tumbuh dari pembentukan watak. Nasionalisme yang berakar pada kesadaran spiritual. Nasionalisme yang tidak dibangun dengan kemarahan. Nasionalisme yang tidak tumbuh dari kebencian terhadap bangsa lain. Nasionalisme yang tumbuh dari keyakinan bahwa manusia harus hidup bermartabat dan tidak boleh tunduk kepada penindasan.

Membaca bagian itu, kami tiba-tiba teringat kembali kepada langgar kecil masa kanak-kanak. Langgar yang beberapa jam lalu kami ceritakan kepada panjenengan. Tempat kami pertama kali mendengar nama panjenengan disebut dalam tawasul. Tempat seorang guru ngaji yang mungkin tidak pernah menjejakkan kaki ke Makkah, namun dengan sabar mengajari kami mengeja huruf-huruf Al-Qur’an.

Tempat kami belajar bahwa ilmu harus didahului dengan adab. Tempat kami belajar bahwa seorang murid tidak boleh tergesa-gesa merasa lebih tahu daripada gurunya. Barangkali nasionalisme memang tidak selalu lahir dari suara yang bergemuruh. Kadang ia tumbuh pelan-pelan dari tangan seorang guru yang sabar mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an.

Kadang ia bersemi dari kitab yang dibaca berulang-ulang hingga larut malam di serambi pesantren. Kadang ia lahir dari ketekunan seorang ulama yang memilih menulis, mengajar, dan mendidik murid-muridnya daripada mendekati kekuasaan. Kadang ia tumbuh diam-diam di ruang-ruang kecil yang tidak pernah diliput media. Kadang ia hidup di dalam hati para santri yang belajar menghormati gurunya sebelum belajar memimpin masyarakatnya.

Dan mungkin, Syekh, dari jalan sunyi seperti itulah panjenengan turut menanam benih-benih kebangsaan yang kelak tumbuh menjadi pohon besar bernama Indonesia. Benih-benih itu mengalir melalui murid-murid panjenengan. Melalui Syaikhona Kholil Bangkalan, melalui KH Saleh Darat, melalui Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, melalui KH Ahmad Dahlan, dan melalui Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi.

Dan barangkali, Syekh, di tengah zaman yang serba tergesa-gesa ini, kami memang perlu kembali duduk di serambi ilmu yang telah jenengan bangun. Sebab dari panjenengan kami belajar bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari kegaduhan, sebagaimana pohon besar tidak tumbuh dalam semalam. Dari panjenengan pula kami belajar bahwa pengaruh yang paling panjang sering kali justru lahir dari jalan-jalan sunyi yang nyaris tak terdengar oleh dunia. Bahwa peradaban dibangun melalui kesabaran yang panjang, melalui halaman-halaman kitab yang dibaca berulang-ulang, melalui ketekunan seorang guru yang tak pernah lelah mengajar, dan melalui murid-murid yang dengan setia meneruskan cahaya ilmu kepada generasi berikutnya.

Dari panjenengan kami juga belajar bahwa adab harus berjalan lebih dahulu daripada pengetahuan, sebab ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan. Dan yang paling penting, kami belajar bahwa seorang guru yang mengajar dengan ikhlas sesungguhnya tidak pernah benar-benar wafat. Tubuhnya mungkin telah kembali ke tanah, tetapi ilmu, teladan, dan doa-doa yang ditinggalkannya akan terus hidup, bahkan berabad-abad sesudah zamannya berlalu.

Karena itulah, Syekh, nama panienengan tetap hidup sampai hari ini. Ia hidup dalam kitab-kitab yang terus dibaca dari generasi ke generasi. Hidup dalam tawasul yang dilantunkan sebelum pelajaran dimulai. Hidup di serambi-serambi pesantren yang setiap malam masih menyalakan cahaya ilmu. Hidup dalam ingatan para santri yang mewarisi jejak keilmuan jenengan, dan hidup dalam doa-doa para guru ngaji kampung yang dengan setia menjaga mata rantai pengetahuan itu agar tidak terputus. Lebih dari itu, nama panjenengan juga hidup dalam kerinduan kami sendiri; kerinduan seorang santri yang semakin bertambah usia justru semakin menyadari betapa sedikit ilmu yang telah dipelajari dan betapa panjang jalan yang masih harus ditempuh.

Demikianlah surat ini kami tulis, Syekh, sebagai ungkapan takzim, kerinduan, sekaligus rasa terima kasih kami atas jejak ilmu yang hingga hari ini masih mengalir dan menghidupi banyak pesantren, guru, dan santri di Nusantara. Lewat surat yang sederhana ini pula, kami yang fakir ilmu memohon doa restu kepada panjenengan, semoga seluruh rangkaian Festival Dunia Santri 2026 yang telah berlangsung sejak 19 April dan akan berakhir pada 28 Oktober mendatang diberi kemudahan, keberkahan, serta kemanfaatan bagi umat, bangsa, dan ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan