Filosofi Sarung

Santri, yaitu mereka yang belajar di pesantren —dulu disebut kepesantrenan— memiliki ciri dan kekhasan, yaitu memakai sarung. Saat saya masih mondok (ungkapan lain belajar di pesantren), masih menggunakan sarung dan tabu (tapi sudah mulai diterima) untuk memakai celana. Bahkan, pada saat liburan dan pulang ke rumah, memakai sarung merupakan identitas yang tak terpisahkan dengan santri.

Saat ini, pemakaian sarung sudah mulai berkurang. Ketika berkunjung ke pesantren saya (Pesantren Annuqayah, Sumenep), saya melihat santri yang belajar formal sudah tidak nampak ada yang memakai sarung. Tetapi, kalau ke masjid, salat lima waktu, masih setia dengan penggunaan sarung.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Realitasnya, sarung adalah alat untuk menutup, di samping sebagai penghangat ketika musim dingin. Sementara, dalam ajaran Islam ada kewajiban menutup aurat, yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Aurat laki-laki dari pusar sampai lutut. Sedangkan, untuk perempuan seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Mungkin saja ada ikhtilaful ulama dalam teknis menutup aurat. Tetapi, ajaran Islam tentang menutup aurat ini sudah pasti dan jelas.

Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah baligh (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya).” (HR Abu Dawud)

Sementara melalui perkataan Syaikh al-Albâni dalam kitabnya Irwâ’ 1/297-298, dan Fatawa al-Lajnah ad-Dâimah Nomor 2252, dijelaskan bahwa aurat laki-laki antara pusar dan lutut. Meski terdapat kelemahan sanad dari beberapa hadits yang ada, namun antara satu dengan lainnya saling menguatkan. Sehingga, hadits tentang aurat laki-laki dapat dihujjahkan dari pusar sampai lutut.

Adapun, filosofi yang mungkin dapat dijadikan telaah keabsahan logika, di antaranya adalah, pertama, bahwa sarung merupakan pakaian yang sangat longgar. Itu artinya, kita harus selalu berusaha memberi ruang kebaikan kepada orang lain demi terjadinya sifat dan sikap takwa kepada Allah Swt.

Kedua, sarung tidak terikat dengan ikat pinggang, resleting, dan buah kancing. Ini menjadi filosofi bagi kita bahwa kita harus melepas ikatan-ikatan rasa tamak, takabur, dan sifat negatif lainnya.

Ketiga, sarung dapat dijadikan berbagai kemanfaatan. Seperti untuk menutup aurat, mengusir rasa dingin (selimut), sebagai alas duduk, bahkan dapat dijadikan sebagai penutup kepala di kala panas matahari. Itu artinya, kita harus menjadi seseorang yang siap ditempatkan di mana saja. Mampu memberikan manfaat kepada siapa saja, serta dapat berperan sebagai apa pun (yang bernilai positif) di tengah kehidupan bermasyarakat.

Itulah tiga filosofi sarung yang dapat dijadikan pelajaran demi kehidupan yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Filosofi sarung hanya sebagai pembanding dalam memberikan kemanfaatan. Dan yang terpenting adalah, bahwa karakter individu perlu pemahaman yang baik dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Tinggalkan Balasan