Filsafat Jawa: dari Kentut Semar hingga Nawaruci

Dalam kentut Semar dikisahkan, ketika Semar marah, alih-alih mengambil gada, keris, atau senjata-senjata dalam wayang pada umumnya, ia lebih memilih kentut sebagai senjata pamungkas. Kentut milik Semar ini jelas bukan senjata yang membinasakan musuh-musuhnya, ia hanya membuat semua musuhnya kalah dan takluk di hadapannya.

Menurut Armada Riyanto, kentut ini menjadi solusi khas Semar dalam menyelesaikan segala bentuk persoalan, konflik, dan perang. Seakan-akan Semar hendak berpesan kepada kita bahwa kekerasan bukanlah solusi yang tepat dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Harus ada cara lain yang tidak membinasakan dan memunahkan, tetapi yang mengingatkan, yang membuat orang kembali pada jati diri dan jalan yang benar. Kentut tidak akan membunuh orang, tetapi ia membuat orang sadar dengan jati dirinya, ketika sebelumnya ia dilupakan oleh segala bentuk kemerlap duniawi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kisah kentut Semar nampaknya merupakan salah satu yang membentuk paradigma dan karakter masyarakat Jawa yang anti terhadap cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan sebuah persoalan maupun konflik, dan cenderung memilih cara-cara yang mengarah pada usaha mengingatkan: “ngilingake.”

Tak kalah menarik dengan kisah kentut Semar, kisah Bima Suci juga memiliki arti yang sangat mendalam bagi khazanah kefilsafatan Jawa. Bima Suci bercerita tentang pengalaman akan Allah dan suka duka dalam pencarian air kebijaksanaan. Namun, yang unik dan paradoks dalam kisah Bima adalah ketika ia, yang memiliki postur tinggi dan besar, harus masuk ke telinga Dewa Ruci yang badannya kecil. Tidak ada cara lain kecuali dengan “menghilangkan diri.” Hingga pada akhirnya, dengan cara ini, Bima bisa mencapai pengenalan diri sejati (true self) dan ketenangan sejati.

Tinggalkan Balasan