Filsafat Jawa: dari Kentut Semar hingga Nawaruci

Dari kisah Bima Suci bisa disimpulkan bahwa dalam khazanah Jawa, usaha memperoleh kebijaksanaan nampaknya merupakan proses yang saling bertentangan. Semar juga digambarkan sebagai sosok yang paradoksal. Di satu sisi, ia adalah manusia biasa, namun di sisi lain, ia memiliki sisi keilahian atau lebih tepatnya sebagai perwujudan dari dewa.

Filsafat Jawa yang paradoks ini juga terbukti dari beberapa ungkapan yang sangat populer di Jawa, seperti menang tanpa ngasorake, ngluruk tanpa bala, dan ngono ya ngono ning aja ngono.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pasti kita bertanya-tanya, mengapa filsafat Jawa menempatkan kebijaksanaan pada pertentangan? Lilo Sunaryo melihat filsafat Jawa memiliki orientasi yang sama sekali berbeda dengan filsafat Yunani maupun Modern. Ketika hampir semua aliran filsafat berfokus untuk menemukan kebenaran atau kebahagiaan hakiki, filsafat Jawa mengabaikan itu semua.

Kebijaksanaan tidak diartikan sebagai kebenaran atau kebahagiaan hakiki. Kebijaksanaan, dalam kacamata filsafat Jawa, adalah “ketenteraman,” tidak lebih. Kebijaksanaan ini tidak bisa diperoleh dengan dialektika ala Hegel, skeptisismenya R. Descartes, atau observasi dan eksperimennya para saintis modern. Ia hanya bisa diperoleh dengan “rasa” yang harus diterjemahkan menjadi tindakan konkret “laku.” “Rasa” bukanlah konsep yang menuntut adanya penjelasan, ia hanya bisa dipahami jika kita menjalankannya. Sebagaimana Suryomentaram yang menolak adanya konseptualisasi dari “rasa.”

Tinggalkan Balasan