Setiap tahun, ketika kalender memasuki penghujung September, kita kembali berhadapan dengan satu bagian sejarah Indonesia yang tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan, yaitu gerakan 30 September atau G30S/PKI.
Nama itu mungkin sudah sangat akrab bagi generasi yang belajar sejarah Indonesia. Ada yang mengenalnya dari buku pelajaran, film, cerita guru, cerita orang tua, atau bahkan dari percakapan sederhana di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Namun, bagi generasi yang lahir jauh setelah peristiwa itu, G30S/PKI bukan lagi pengalaman yang mereka saksikan. Ia adalah sesuatu yang diwariskan melalui cerita. Di sinilah persoalan menarik muncul. Sejarah tidak hanya hidup dalam buku, tetapi juga dalam ingatan manusia.
Kita sering menganggap sejarah sebagai sesuatu yang sudah selesai. Tahun, tanggal, tokoh, dan peristiwa dicatat, kemudian dipelajari. Padahal, cara masyarakat mengingat sebuah peristiwa dapat terus berubah. Apa yang dianggap penting untuk diingat pada satu masa, belum tentu memiliki penekanan yang sama pada masa berikutnya. G30S/PKI adalah salah satu contohnya.
Peristiwa pada 30 September hingga 1 Oktober 1965 berkaitan dengan penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat. Setelahnya, terjadi perubahan politik besar di Indonesia dan kekerasan massal terhadap orang-orang yang dituduh terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Peristiwa-peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian penting dari sejarah politik Indonesia.
Namun, ketika kita berbicara tentang G30S/PKI, sebenarnya kita tidak hanya sedang berbicara mengenai apa yang terjadi pada 1965. Kita juga sedang berbicara tentang bagaimana peristiwa tersebut diceritakan, diajarkan, dan diingat selama puluhan tahun. Ada perbedaan antara sejarah dan ingatan.
Sejarah berusaha menelusuri peristiwa berdasarkan sumber, kesaksian, dokumen, dan penelitian. Sementara ingatan hidup melalui manusia. Ia bisa hadir dalam cerita keluarga, tradisi masyarakat, buku pelajaran, film, peringatan tahunan, bahkan percakapan di media sosial.
Karena itu, ingatan tidak selalu sederhana. Seseorang mungkin mengingat G30S/PKI sebagai tragedi nasional. Orang lain mungkin mengingatnya melalui pengalaman keluarganya. Ada pula generasi muda yang mengenalnya hanya dari pelajaran sejarah. Masing-masing memiliki pintu masuk yang berbeda dalam memahami masa lalu.
