Persoalannya bukan pada adanya perbedaan ingatan. Justru perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sejarah memiliki banyak lapisan. Yang perlu dihindari adalah ketika sejarah hanya diperlakukan sebagai hafalan. Siswa mengetahui tanggal, nama tokoh, dan urutan peristiwa, tetapi tidak pernah diajak bertanya mengapa sebuah peristiwa bisa terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan masyarakat setelahnya.
Padahal, belajar sejarah seharusnya membuat kita lebih kritis terhadap masa lalu. Generasi muda hari ini memiliki tantangan yang berbeda. Mereka hidup di tengah banjir informasi. Potongan sejarah dapat muncul di TikTok, Instagram, YouTube, X, dan berbagai platform lainnya. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan narasi yang berbeda tentang sebuah peristiwa sejarah.

Di satu sisi, ini merupakan kesempatan. Sejarah menjadi lebih mudah diakses. Anak muda tidak harus selalu membuka buku tebal untuk mengenal sebuah peristiwa. Namun di sisi lain, ada persoalan baru, bagaimana membedakan informasi sejarah dengan narasi yang tidak memiliki dasar yang kuat?
Di ruang digital, sejarah sering hadir dalam bentuk potongan pendek. Satu gambar, satu kutipan, satu video, kemudian sebuah kesimpulan. Padahal, sejarah tidak selalu sesederhana itu.
G30S/PKI tidak cukup dipahami hanya melalui satu video berdurasi satu menit. Begitu pula sebuah peristiwa besar tidak cukup dijelaskan hanya dengan satu sudut pandang. Di sinilah pentingnya sikap kritis.
Bagi santri dan kalangan pesantren, persoalan ini juga menarik. Pesantren memiliki tradisi panjang dalam menghargai ilmu, sanad, dan kehati-hatian dalam menerima informasi. Prinsip tabayyun yang sering diajarkan dalam Islam sesungguhnya relevan ketika kita berhadapan dengan informasi sejarah.
Tabayyun bukan hanya diperlukan ketika menerima kabar tentang seseorang. Ia juga penting ketika kita menerima cerita tentang masa lalu. Jangan sampai karena sebuah cerita sudah berulang kali disampaikan, kita langsung menganggapnya sebagai satu-satunya kebenaran.
Sebaliknya, jangan pula karena menemukan narasi yang berbeda di internet, kita buru-buru menganggap semua sejarah sebelumnya sebagai kebohongan. Keduanya sama-sama membutuhkan sikap kritis.
