G30S/PKI: di antara Sejarah dan Ingatan

Membaca kembali G30S/PKI bukan berarti membuka kembali luka untuk kemudian mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lain. Membaca sejarah justru dapat menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah bangsa pernah mengalami masa yang sangat berat.

Ada korban, ada ketakutan, ada perubahan kekuasaan, ada propaganda, ada kekerasan, dan ada masyarakat biasa yang harus menjalani kehidupan di tengah gejolak politik. Semua itu penting untuk ditempatkan dalam ingatan bangsa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebab sejarah tidak hanya berbicara tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Sejarah juga berbicara tentang manusia yang hidup di dalam sebuah peristiwa.

Karena itu, memperingati G30S/PKI semestinya tidak berhenti pada pengulangan narasi setiap tahun. Ia dapat menjadi ruang untuk bertanya: apa yang sebenarnya dapat kita pelajari dari masa lalu? Barangkali salah satunya adalah tentang bahaya ketika perbedaan politik berubah menjadi permusuhan yang menghilangkan kemanusiaan.

Kita boleh berbeda pandangan. Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh memiliki cara berbeda dalam membaca sejarah. Tetapi perbedaan tersebut seharusnya tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat manusia sebagai manusia.

Generasi hari ini tidak mengalami langsung G30S/PKI. Mereka tidak berada di sana ketika peristiwa itu terjadi. Karena itu, tugas mereka bukan menghidupkan kembali permusuhan masa lalu, melainkan mempelajarinya dengan kepala dingin. Masa lalu memang tidak bisa diubah. Tetapi cara kita memahaminya selalu bisa diperbaiki.

G30S/PKI akhirnya bukan sekadar persoalan tentang apa yang terjadi pada satu malam di penghujung September 1965. Ia juga menjadi cermin tentang bagaimana sebuah bangsa menyimpan ingatan, mewariskan cerita, dan memahami luka masa lalunya. Di antara sejarah dan ingatan itulah kita berdiri hari ini.

Kita tidak hidup pada 1965. Tetapi kita hidup dengan warisan sejarahnya. Maka, barangkali cara terbaik untuk mengingat G30S/PKI bukan dengan terus-menerus mewariskan kebencian, melainkan dengan mewariskan pelajaran. Bahwa sejarah perlu dibaca dengan teliti, informasi perlu diperiksa, perbedaan perlu dihargai, dan kemanusiaan harus tetap menjadi batas terakhir dalam setiap pertarungan politik. Sebab sejarah yang baik bukan hanya membuat kita tahu apa yang pernah terjadi. Ia juga membuat kita belajar agar tragedi yang sama tidak perlu terulang kembali.

Tinggalkan Balasan