Gesekan Biola yang Menggetarkan Hati

“Alhamdulillah, masih ada jalan menuju surga Allah,” ungkap pemain biola sambil mengusap wajahnya.

Tidak lama kemudian si Mbak Teller memberikan secarik kertas bukti transferan. Lalu kedua laki-laki tua itu melangkah menuju becak yang diparkirnya. Aku tertegun melihat melihat mereka berdua sampai si Mbak Teller mengejutkanku dengan pertanyaannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ada yang bisa saya bantu pak?”

“Oh iya, ada!” dengan buru-buru aku ambil kartu ATM dalam dompet dan menyerahkannya ke Mabak Teller.

“Transferkan ke yayasan yang orang tua tadi berdonasi!” aku masih ingat masih ada uang honor menulis yang belum kuambil.

***

Waktu pagi kala kesibukan terjadi, aku sudah ada di statsiun. Orang-orang hilir mudik turun dan naik kereta, sedangkan aku terdiam di bangku sambil nyeruput kopi. Perempuan pengemis terlihat masih setia pada tempatnya meminta-minta, dan laki-laki tua pun masih setia pada tempatnya menggesekkan biola. Lagu Padamu Negeri dan Sebelum Cahaya milik Letto baru saja dia mainkan, lantas dia duduk untuk meneguk kopi yang dibawanya.

Aku mendekatinya, kemudian duduk di sampingnya. “Mbah, saya kemarin mengikuti mbah sampai ke warung transfer, saya lihat mbah hanya mengambil uang lima puluh ribu dari hasil mengamen ini, padahal pendapatan mbah itu banyak.”

“Ya mbah memang butuhnya segutu toh!”

“Tapi mbah kan bisa ditabung itu sisanya!”

“Ya memang ditabung! Itu mbah menabung buat bekal mbah di akhirat nanti, mbah sudah tua, nabung di dunia buat apa, lah wong mau ditinggal!”

“Tapi dari uang donasi mbah ada yang hidupnya bermewah-mewah mbah!”

“Kamu kan sudah tahu, wanita pengemis itu hidupnya juga bermewah-mewah dengan uang sedekah orang, apa orang yang memberi sedekah itu ikut berdosa? Kamu juga tahu kalau uang pajak juga ada yang dikorupsi, apa orang-orang berhenti membayar pajak? Hidup masing-masing punya tujuan. Ada yang mencari kesenangan hanya di dunia saja, itu urusannya. Gusti Allah ora sare!”

Lelaki tua itu kembali berdiri dan menggesekkan biolanya. Baru kali ini aku mendengar gesekan biola yang menggetarkan hati, hingga air mataku tak bisa kuhentikan linangnya.

Tinggalkan Balasan