Glundung Plecek

Tapi, di antara mereka yang berkerumun di bawah pohon asem itu, sambil menunggu buah asem jatuh diterpa angin, belum ada yang pernah diganggu glundung plecek. Meskipun begitu, mereka bisa merekonstruksi seperti apa wujud glundung plecek itu. Menurut mereka, glundung plecek itu berwujud kepala manusia yang gundul dan tanpa tubuh, Seperti seseorang yang dipenggal lehernya hingga kepala dan badan terpisah.  Saat beraksi, hantu itu selalu menyaru sebagai buah kelapa yang ukurannya biasanya memang sama dengan kepala manusia. Dalam aksinya, glundung plecek itu akan menjatuhkan diri dari pohon kelapa sebagai buah kelapa. Lalu ia akan menggelundung mengikuti korbannya. Ketika korbannya menoleh, buah kelapa itu akan berubah wujud menjadi kepala manusia, lalu kelopak matanya membuka dan mulutnya mlecek, kemudian nyengir untuk memperlihatkan gigi-giginya yang entah putih, entah hitam, entah kuning keemasan. Ketika korbannya melaju makin cepat atau berlari, glundung plecek itu akan menggelinding dengan cepat untuk mengejar, tapi tak lama kemudian menghilang ketika korbannya berada di puncak ketakutan.

Rasanya semua orang sadar bahwa ada glundung plecek di antara mereka yang selalu siap menampakkan diri di malam hari. Bahkan, orang-orang sampai menandai tempat-tempat yang ditengarai menjadi langganan munculnya glundung plecek. Yang pertama seperti yang disebut Sumirah, di depan pabrik. Sebenarnya bukan pabrik. Dulunya merupakan tempat penggilingan padi yang cukup besar, lengkap dengan plesteran yang sangat luas untuk menjemur gabah. Penggilingan padi itu kemudian terhenti dan bangunannya yang sangat besar dibiarkan mangkrak. Pabrik itu akhirnya seperti rumah hantu. Di depan pabrik itu ada jalan agak besar yang menghubungkan perempatan Dambuntung di selatan dan daerah persawahan di utara. Dan di sekitar pabrik itu hanya terhampar tegalan yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Tempat ideal persembunyian glundung plecek.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lalu jalan yang dilewati Sukirin itu juga ditandai sebagai tempat langganan munculnya glundung plecek. Jalan tanah yang diselang-seling batu dan kerikil ini berukuran kecil membelah permukiman dan pekarangan dan karena itu sering disebut dalan njero. Jika seseorang berkata “Aku lewat njero” berarti ia melintas di jalan ini. Namun, jalan ini menghubungkan permukiman petani di sisi utara dengan pusat keramaian di sisi selatan, yaitu Pasar Dambuntung dan rumah-rumah toko, langgar, masjid jami, dan standplat bus. Karena itu, meski kecil dan berlumpur jika musim hujan, jalan ini tetap menjadi pilihan orang untuk berlalu. Jalan ini pula yang dilalui Sukirin jika pergi dan pulang mengaji di langgar.

Malam itu, seperti biasanya, sehabis isya Sukirin pulang dari langgar melewati jalan itu. Tentu saja jalan yang dilewatinya ditudung kegelapan karena bulan tertutup awan. Cahaya lampu ublik dan petromak yang menerangi rumah-rumah penduduk tak mampu menjangkau jalanan. Sebab, rumah-rumah itu pada umumnya berdiri agak jauh dari jalan, lebih menjorok ke dalam di tengah pekarangan. Jika malam hari, rumah-rumah itu diterangi ublik atau petromak. Jarak antara satu rumah dengan lainnya juga agak jauh, yang selalu dipisahkan oleh kebun atau pekarangan yang dilebati oleh beraneka tumbuhan, termasuk pohon-pohon kelapa.

Seorang diri Sukirin melewati jalan itu. Ia berjalan cepat dengan sedikit berjinjit agar lekas sampai rumah. Pandangan matanya lurus ke depan menatap kegelapan. Tapi ia sedikit memperlambat langkah ketika sampai di perempatan kecil, yang ditandai sebagai tempat angker oleh orang-orang. Ia menolah ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Tepat saat itulah ia mendengar suara gedebuk, terdengar seperti buah kelapa jatuh dari pohonnya. Suara itu mengagetkannya dan membuat kuduknya meremang seketika. Seketika itu pula ia berlari sekencang-kencangnya sambil meneriakkan nama hantu yang paling ditakuti itu: Glundung plecek! Ia tak tahu, atau tak peduli, apakah benda yang jatuh itu terus menggelundung mengikutinya atau tidak. Mulutnya mlecek dan nyengir atau tidak. Tapi peristiwa itu membuat Sukirin tetap terjaga hingga pagi di atas ambinnya meskipun berkali-kali telah mencoba memejamkan mata. Ia pun terserang demam, dan tidak berangkat ke sekolah.

Tinggalkan Balasan