Glundung Plecek

Pagi itu Pak Sukirin sedang duduk di emperan rumahnya, yang dipisahkan oleh jendela dengan kamar Sukirin. Sesekali, Pak Sukirin melihat anaknya yang sedang demam dari di balik jendela yang terbuka. Pak Sukirin sedang menyeruput kopi yang terhidang bersama jagung rebus ketika Pak Selo datang.

“Tidak ke sawah, Kang?” tanya Pak Selo setelah duduk di samping Pak Sukirin.
“Lah itu, nungguin Sukirin malah demam.”
“Kenapa demam?”
“Tidak bisa tidur semalaman katanya, semalam dikejar-kejar glundung plecek di perempatan itu,” jawab Pak Sukirin sambil tangannya menunjuk ke arah selatan.
“Iya-ya, Kang. Kok, akhir-akhir banyak cerita orang-orang dikejar-kejar glundung plecek ya. Di sana… di sana… ada saja yang cerita.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pak Sukirin tak menyahut. Ia hanya terdiam dengan pandangan menerawang ke awang-awang.

“Apa kira-kira itu kepalanya orang-orang yang dulu kita penggali pas zaman gegeran itu ya, Kang. Kan, tempatnya di situ-situ juga.”

Pak Sukirin tetap tak menyahut. Ia hanya terdiam dengan pandangan menerawang ke awang-awang. Namun tubuhnya mulai menggigil, seperti tubuh Sukurin yang sedang terserang demam.

Tinggalkan Balasan