Guru Sekumpul, Perhiasan Ahli Ibadah

Banyak Guru, Banyak Ilmu

Sejak belia, Abah Guru Sekumpul sudah diajarkan diajarkan al-Quran dan dikenalkan dengan berbagai ilmu keagamaan lainnya. Masa belajarnya dihabiskan di di Pesantren Darussalam, Martapura, mulai dari Ibtidaiyah hingga Aliyah. Ia masuk Madrasah Ibtidaiyah pada 1949, saat usianya mencapai 7 tahun. Lalu diteruskan ke jenjang berikutnya, Madrasah Tsanawiyah hingga  Madrasah Aliyah. Semasa di Pesantren Darussalam Martapura inilah diganti menjadi Muhammad Zaini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai santri, Muhammad Zaini dikenal memiliki kecerdasan luar biasa. Bahkan, pada usia tujuh tahun sudah hafal al-Quran. Lalu, pada usia sembilan tahun sudah hafal Tafsir al-Jalalain, tafsir Alquran yang dikarang oleh dua ulama besar asal Mesir, Jalaluddin al-Mahalli dan al-Suyuthi.

Orang yang memiliki peran sangat penting dalam mengenalkan berbagai bidang bidang ilmu kepada Abah Guru Sekumpul adalah Syekh Seman Mulia, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Syekh Seman inilah yang selalu mengantarkan Abah Guru Sekumpul belajar kepada berbagai ulama sesuai dengan bidang keahliannya. Misalnya, untuk mempelajari ilmu haduts dan tafsir al-Quran, maka Syekh Seman Mulia membawa Muhammad Zaini ke ahlinya, yaitu Syaikh Anang Sya’rani Arif.

Pamannya pula yang mengantarkan Abah Guru Sekumpul belajar kepada banyak ulama lain, seperti KH Husain Qadri, KH Salim Ma’ruf, dan Syaikh Salman Jalil untuk belajar ilmu falak dan faraidh. Di bidang ini, Abah Guru Sekumpul juga pernah berguru kepada Syaikh Syarwani Abdan Bangil (dikenal sebagai Guru Bangil) dan Abah Falak, Pagentongan, Bogor.

Abah Guru Sekumpul juga pernah berburu ilmu dan guru hingga ke Mekkah. Di Tanah Suci itu, misalnya, ia berguru kepada Guru Kasyful Anwar yang tidak lain adalah pamannya sendiri yang pernah mengajar di Masjidil Haram, Syaikh Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani, Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail Yamani, dan lainnya. Ia juga berguru kepada Syaikh Amin al-Kutbi di bidang tarekat dan tasawuf.

Dari semua itu, sesungguhnya tetap pamannya guru yang paling banyak membagikan ilmunya. Dan, Abah Guru Sekumpul pun mengakuinya. Ia pernah berujar bahwa pamannya ini sebenarnya pakar hampir semua keilmuan. Namun, ketawaduan yang membuat pamannya lebih mendorong keponakannya belajar kepada ahli lain dan tidak ingin menonjolkan keilmuannya.

Tinggalkan Balasan