Dengan luasnya bidang keilmuan dikuasai, Abah Guru Sekumpul pun melahirkan berbagai karya monumental, di antaranya Risalah Mubarakah, Manakib Asy-Syekh Muhammad Samman Al-Madani, Ar-Risalat an-Nuraniyyah fi Syarh at-Tawassulat as-Sammaniyah, dan Nubzat min Manaqib al Imam al-Masyhur bil Ustadz al A’zham Muhammad bin Ali Ba’Alwi yang semuanya diterbitkan dalam bahasa Arab.

Menjadi Guru Sekumpul

Seperti halnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang mulanya tinggal di keraton kemudian memilih pindah dan membuka perkampungan baru di Dalampagar, Abah Guru Sekumpul juga melakukan hal yang sama.
Mulanya, sepulang belajar di Makkah pada era 1970-an, ia mulai membuka pengajian di rumahnya di Kampung Keraton. Awalnya yang diajarkan adalah nahwu sharaf. Namun, seiring waktu dan jemaahnya semakin banyak dan beragam, materi pengajiannya diganti dengan pembacaan Simtudduror dan Maulid al-Barzanji. Semakin lama, berkembang menjadi pembacaan beraneka macam kitab.
Sekitar dua dekade kemudian, tempat pengajiannya dipindahkan ke Desa Sekumpul. Sebagai permulaan, di tempat baru dibangun Mushola Ar-Raudhah. Mushola inilah yang kemudian menjadi pusat penyebaran keilmuannya hingga ia memperoleh nama panggilan Abah Guru Sekumpul.
Selama hidupnya, pengajian di Mushola Ar-Raudhah seolah menjadi aliran air hikmah dan spiritual bagi masyarakat Banjar khususnya dan Kalimantan umumnya. Karena itu, ketika haulnya yang ke-15 dilaksanakan, semuanya menyambutnya dengan penuh khidmat.
