Namun sekarang tampak jauh berubah. Sekarang dia sedikit rapi dengan memakai sarung dan peci. Meskipun masih ada saja yang unik darinya. Rambutnya yang menjuntai sampai pertengahan punggung menimbulkan sedikit tanda tanya di hati Khoid. Namun hal itu segera ditepisnya sendiri dari dalam benaknya.
“Ayo Id, kita ke warkop.”

Ajakan Gus-nya itu lagi-lagi membentuk sedikit tanda tanya di benak pemuda itu. Namun dirinya tak kuasa untuk menolak itikad baik dari orang yang telah lama tak ditemui. Mungkin itu hanya salah satu caranya untuk menyapa tamu yang datang dari perantauan.
Sesampainya di warung mereka duduk di sebuah dipan yang menghadap langsung ke sawah. Dua gelas kopi disuguhkan oleh sang penjaga warung di hadapan.
“Kamu lagi banyak pikiran ya Id?’”
Baru saja seteguk kopi melintasi tenggorokannya. Bahkan mungkin belum sampai di lambung. Dan pahit bercampur manis itu sedikit bersarang di lidahnya. Juga di dadanya. Dan tetap saja, selalu ada tanda tanya di antara percakapan mereka. Mau tak mau dan malu tak malu, dengan sedikit pancingan akhirnya Khoid berani untuk cerita. Masalah lubang di dadanya.
Semua cerita telah dituang habis oleh Khoid di depan sang Gus. Layaknya cangkir yang telah kosong. Taka ada lagi yang bisa dia curahkan. Gus Mark akhirnya mengangkat gelasnya untuk yang terakhir kali di waktu itu. Seakan mengingiatkan Khoid akan malam yang dia habiskan di lantai paling atas pondoknya di Surabaya. Entah sampai berapa purnama.
“Bernapaslah.”
Kalimat itu membuat Khoid tak tahan lagi akan simpul tanya yang sudah ada di kepalanya sejak awal pertemuan dengan Gus Mark. Dan akhirnya dia melontarkan tanya, untuk yang terkahir kali juga di waktu itu.
“Id, ada hal yang memang harus dipertanyakan. Dan ada hal yang hanya harus dilakukan. Kebanyakan orang zaman sekarang membaliknya. Sehingga mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Mereka tak tahu mana tujuan, dan mana alat untuk mencapainya.”
Kalimat terakhir yang diberikan Gus Mark seakan menampar pemuda yang merasakan lubang di dalam dadanya. Khoid kembali ke perantauan dengan bekal kalimat tersebut. Kadang, saat semua urusan yang ada di depannya tampak seperti benang layangan yang kusut, dia lalu menarik napas sedalam-dalamnya, lalu mengembuskannya perlahan.
