“Assalamualaikum!” teriak Khoid keras sampai mengagetkan Bigo, salah satu temannya yang tengah bermain laptop.
“Asyem, mbok ya jangan ngagetin!”

“Mbok ya dijawab dulu salamku.”
“Iya, waalaikumsalam,” jawab remaja tanggung dengan perut buncit itu.
Khoid mengatakan maksudnya kepada teman sekelasnya tersebut untuk mengantarkannya ke Terminal Bungurasih. Awalnya Bigo menolak karena mepet dengan jadwalnya manggung. Yah, dia adalah pengampu dan juga anggota dari salah satu grup banjari Riqul Habib. Nama grup itu jelas suadah tak asing lagi bagi para penikmat musik banjari di Jawa Timur. Dengan sedikit memelas Khoid berusaha meyakinkannya.
“Balik ke sini harus bawa jajan yang banyak ya.”
“Deal,” kata Khoid mantab.
Selama dua jam perjalanan harus ditempuh Khoid dengan bus P6. Itu pun harus turun di kecamatan seberang, lalu harus diteruskan dengan ojek selama setengah jam. Alhasil, uangnya habis hanya untuk perjalanan.
Setelah istirahat di rumah selam sehari, Koid menyambagi pondok pesantrennya dulu. Berada di pojok desa dengan sawah di setiap sisinya membuat pondok itu jauh dari kehidupan luar. Bahkan mungkin juga jauh dari kata terkenal. Namun bagi Khoid, itu adalah catatan sejarah yang menghidupkan kenangannya.
“Loh, Khoid. Kapan datag?”
Sapaan dari seseorang itu membuyarkan lamunannya. Ternyata dia adalah Gus Mark. Salah seorang anak pak kiai yang dulu mondok di Kediri. Khoid menghaturkan salamnya dengan wajah sumringah. Meskipun juga dengan sedikit rasa kaget karena penampilan Gus Mark yang sedikit berubah. Dulu dia memang dikenal suka dengan gaya penampilan yang sedikit urakan dan juga menyukai musik metal.
