Dari pemaparan sederhana tersebut, setidaknya dapat ditarik dalam dua bilik dimensi dari identitas seorang yang bergelar habib. Pertama, seorang habib adalah sosok yang mempunyai otoritas nasab/keturunan yang bersambung kepada Nabi melalui jalur biologis. Sedangkan, yang kedua, seorang habib adalah sosok yang mempunyai otoritas untuk menjaga kemuliaan ruh, nur, warisan ilmu, akhlak, dsb dari Nabi.
Mudahnya, apabila kita menilik dari dimensi kedua, maka siapa pun umat Islam yang berniat memperdalam Islam, menjunjung sunnah-sunnah Nabi, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka ia adalah seorang habib.

Habib dalam ranah definisi kedua ini bukanlah suatu identitas yang dimiliki beberapa kalangan khusus, namun universal dimiliki umat Islam. Karena umat Islam seharusnya memang menjadi sosok representatif untuk ajaran-ajaran rahmat dari Nabi. Sebagaimana makna asal dari kata habib, yakni mencintai (sesama) dan dicintai (Allah dan Nabi).

Bagaimana menurut analisis Sampeyan, seseorang yang diberi gelar habib, tetapi tindak tanduknya tidak mencerminkan akhlak Nabi? Selalu membikin kegaduhan dan keributan, berkata kasar, dan menghina bahkan berbuat tafkiri terhadap orang lain? Hee,,, saporana…
Secara dzohir, mungkin kami yang faqir hanya bisa menilainya sebagai tindakan yang tidak representatif terhadap apa yang sudah dicontohkan Nabi SAW. Namun pasti ada nilai-nilai yang dapat kita ambil dari berbagai kenyataan tersebut. Dan dalam ranah yang lebih serius, yakni terkait justifikasi Habib sebagai seorang hamba, Wallahu A’lam. 🙏