Habib dalam dimensi kedua bukan mengajarkan kita untuk meninggikan diri karena sebuah disklaimer semata. Namun, sematan habib di sini malah memberikan konsekuensi moral bagi kita sebagai umat Islam, karena kita dituntut untuk bertindak sebagaimana tindak-tanduk Nabi yang sangat mulia. Serta dalam hal ini, kita berkewajiban menjaga sisa-sisa nur kenabian yang diwariskan kepada orang tua dan guru-guru kita melalui ilmu dan teladan Nabi.
Tentunya, kita yang sudah jauh berabad-abad dengan Nabi, dapat terus menunjukkan citra Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Sehingga, apabila kita sebagai seorang muslim keluar dari garis yang tidak merepresentasikan akhlak Nabi, maka tanggung jawab dalam mengemban misi pewaris ajaran Nabi perlu dipertanyakan. Allahumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Wallahu A’lam.

Bagaimana menurut analisis Sampeyan, seseorang yang diberi gelar habib, tetapi tindak tanduknya tidak mencerminkan akhlak Nabi? Selalu membikin kegaduhan dan keributan, berkata kasar, dan menghina bahkan berbuat tafkiri terhadap orang lain? Hee,,, saporana…
Secara dzohir, mungkin kami yang faqir hanya bisa menilainya sebagai tindakan yang tidak representatif terhadap apa yang sudah dicontohkan Nabi SAW. Namun pasti ada nilai-nilai yang dapat kita ambil dari berbagai kenyataan tersebut. Dan dalam ranah yang lebih serius, yakni terkait justifikasi Habib sebagai seorang hamba, Wallahu A’lam. 🙏