Hadiah Kemerdekaan

Suaminya ikut pasukan berani mati dalam misi suci mengusir penjajah. Suaina ikut bersama santri-santri dari Jombang dan bergabung dengan pasukan Bung Tomo.

Rustam, suami Sari, tidak yakin dirinya akan pulang, karena dia menyadari bahwa peperangan hanya memiliki dua kemungkinan– nyaris mati atau benar-benar mati. Dan bahkan Sari pun memiliki firasat dalam mimpinya jika suaminya akan tewas dalam peristiwa berdarah itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Suatu hari dia bermimpi, ada sekawanan gagak mengerang, saling sahut di depan rumahnya, hinggap di pohon cermai yang daunnya tinggal beberapa helai. Dan dia memetik bunga melati. Itu pertanda yang jelas baginya bahwa bayi yang dikandungnya akan menjadi yatim.

Setelah terbangun dari tidurnya, dia pun tidak bisa tidur lagi sampai sampai kemudian azan subuh berkumandang. Keringat di dahinya, dia seka dan berusaha menghimpun kesadaran setelah mengalami mimpi buruk.

Mula-mula, dia ragu untuk membangunkan suaminya. Tetapi pikirannya tidak tenang dan akhirnya dia membangunkan suaminya. Dia goyang-goyangkan tangan suaminya.

“Aku mohon jangan ikut ke Surabaya!” Sari memperingatkan suaminya. Rustam membuka matanya. Dia menatap Sari lalu bangkit.

“Ada firasat buruk tentang dirimu, suamiku,” sambungnya.

“Apa yang membuatmu bangga terhadapku, jika ada penjajah yang ingin kembali menguasai negeri kita ini?” kata Rustam menatap Sari penuh harap.

Rustam juga mengetahui jika Sari mengandung anaknya, tapi kemudian dia juga berharap bahwa setelah anaknya lahir, tidak ada lagi penjajahan di negerinya. Maka dari itu dia bertekad untuk ikut mengusir penjajah.

***

Orang-orang berdatangan. Sari terbaring, hanya bisa merintih, mengejan, sesekali menarik napas panjang untuk menghimpun segala kekuatan dalam proses persalinannya.

“Ketubannya sudah hampir pecah,” ucap seorang yang akan menolong persalinannya.

Tinggalkan Balasan