Seorang perempuan paro baya melepaskan mukenanya yang tampak kusut dan menyuruh para laki-laki untuk keluar dan salah satu perempuan yang mendampinginya menyuruhnya mengambil air dan baskom. Orang-orang memanggilnya Mak Warsih.
Keringat bercucuran. Ada rintihan yang begitu menyakitkan. Sari menarik napas kemudian diembuskan. Seperti halnya para pahlawan di medan laga yang sedang dikejar-kejar oleh kematian, dia pun sedang diadang maut.

Tikar dari daun pandan basah oleh cairan-cairan kemerah-merahan dan kental. Sari meringis kesaktian. Beberapa waktu kemudian, janin yang ada diperutnya keluar dengan selamat. Tangisannya memecah keheningan.
Sementara itu, beberapa orang kembali ke surau untuk salat subuh. Perempuan yang menolong persalinannya bernama Mak Warsih. Kebetulan, rumahnya berdempetan dengan rumah Sari.
Sayup-sayup terdengar suara ayam berkokok, burung-burung berkicau menyambut pagi. Sementara itu, semburat kemerah-merahan fajar mulai berangsur menghilang. Sementara itu, beberapa perempuan menjalankan salat subuh di ruang tamu.
Perempuan yang berada di tempat itu menjadi lega. Meskipun, mereka juga melihat kondisi Sari yang tampak begitu lemas dan pucat. Mak Warsih mengangkat bayi untuk dibersihkan, melilitkan tubuh bayi itu dengan jarit batik.
Bayinya tampak normal dan sehat. Bayi itu menangis, seolah-olah dia seperti sedang merayakan kelahirannya di dunia ini. Suara ayam berkokok saling sahut. Terdengar suara lesung bertalu. Katak, serangga, dan burung-burung liar seperti ikut menyambut kelahiran bayi itu.
Wak Warsih kemudian mendekatkan bayi itu ke samping Sari. Sari mendapat bayi itu dengan tatapan menggelora. Dia menangis haru. Dalam hatinya, seandainya suamiku masih hidup, mungkin kebahagiaanku akan terasa lebih lengkap.
Kemudian setelah persalinan yang melelahkan, Sari meminta Mak Warsih di dekatnya. Wajahnya terlihat tampak pucat, seperti tidak teraliri darah. Dia banyak mengeluarkan darah saat proses persalinannya.
Dia meminta Mak Warsih untuk merawat bayinya. Tidak ada sanak saudara yang bisa dimintai bantuan selain Wak Warsih. Dalam detik-detik kematiannya, ia memberikan nama kepada bayinya.
“Beri nama dia Abiseka. Kelak dia akan dinobatkan sebagai penguasa dan diangkat derajatnya,” pintanya. Sementara itu, Mak Warsih hanya bisa melihat detik-detik kematian Sari dalam posisi memeluk bayinya.
ilustrasi: pemandangancrayon.blogspot.com.
