Rasa takut terhadap ledakan gas elpiji mulai menyerang pikiran Fikri. Detak jantungnya semakin kuat serta cepat. Tangannya menyentuh sakelar gantung berwarna hitam. Ditekanlah sakelar itu, maka terjadilah percikan api listrik. Percikan api dalam sakelar itu menyulut gas yang ada di dapur. Fikri terlempar menembus dinding gedek dapurnya. Api yang berkobar membakar kulit Fikri yang tidak tertutup baju. Sementara dari sobekan selang menyembur api melahap apa yang di dekatnya. Meja, tiang, dinding bambu, dan semuanya. Semua yang mendengar ledakan pun mulai berhamburan keluar. Mereka mulai panik ketika melihat sebagian rumah Bu Nuha dilahap api.
***

Seperti biasa di Kamis malam, para jamaah berdatangan ke Musala Al-Mudzakir untuk kegiatan rutin tahlilan. Tapi kali ini acara tahlilan dibuka dengan musyawarah mengenai bencana yang dialami Bu Nuha. Ucapan salam Mbah Usup membuka acara tersebut.
“Assalamualaikum warahamatullahi wabarokatuh. Para bapak, ibu, serta anak-anak sekalian.”
“Waalaikumsalam warahamatullahi wabarokatuh.”
“Mohon maaf hadirin, izinkan saya pada pertemuan ini untuk menunda acara tahlil. Saya ingin meminta pendapat Bapak-Ibu tentang pembentukan Baitul Mal Al-Mudzakir berdasarkan usulan dari beberapa jamaah. Alhamdullah, pemasukan dari infak tahlil dan TPA, per Kamis ini, sudah Rp 12.155.200. Ini adalah sisa uang pembangunan TPA pada bulan kemarin serta ditambah pemasukan dari infak siswa TPA dan jamaah musala. Saya mengusulkan, yang Rp 11 juta dipakai untuk merenovasi rumah Bu Nuha. Bagaimana pendapat Bapak-Ibu?” Mbah Usup melempar pernyataan tersebut kepada para jamaah musala.
“Jika saya pribadi setuju Mbah. Kasihan Bu Nuha, sekarang menjadi tulang punggung keluarga. Pekerjaannya juga tidak menentu sehingga tidak mempunyai penghasilan yang bisa dipakai untuk mecukupi kebutuhan keluarga. Apalagi anaknya sekarang sedang dirawat di rumah sakit akibat luka bakar yang parah. Tidak hanya itu, rumahnya juga terbakar. Mengenai pembukaan Baitul Mal Al-mudzakir, saya kira sangat diperlukan agar jamaah musala juga mudah untuk bersedekah, berinfak, dan berzakat.”
Seluruh jamaah mengiyakan pernyataan yang keluar dari mulut Pak Sardi. Mereka juga sepakat untuk membentuk Baitul Mal Al-Mudzakir guna memakmurkan warga sekitar.
***
Seusai salat isya, Pak Rahmat, Mbah Usup, Pak Parlan, dan Pak Trisno tetap tinggal di musala. Mereka bersepakat untuk menghitung biaya renovasi rumah Bu Nuha.
“Menurut perhitungan saya, biaya material renovasi itu Rp 30-an juga Mbah. Itu belum termasuk biaya tukang dan kuli. Saya sudah menghitung dengan model bangunan rumah tembok yang sederhana mungkin.” Pak Parlan menunjukkan sobekan kertas dengan catatan material yang dibutuhkan untuk merenovasi rumah Bu Nuha beserta harganya.
***
Seratus lebih murid TPA berhamburan keluar ketika Mbah Usup memukul lonceng. Wasik mulai membuka kotak infak TPA untuk dihitung.
“Pak, ini ada amplop tebal di kotak infak TPA.”
“Siapa yang mememberikannya, Sik?”
“Aku tidak tahu Pak, waktu aku membuka kotak infak ini, amplop itu sudah ada di dalam situ.” Sambil mendengarkan jawaban Wasik, Mbah Usup membaca tulisan “Untuk Bu Nuha” yang tertera di sampul amplop.
***
“Haji yang mabrur itu salah satu tandanya adalah memberikan makanan dan berkata santun.” Ia menggenggam tangan istrinya dengan erat.
“Tidak mengapa kita batal haji tahun ini.”
