“Mbah Usup, saya ingin menyampaikan usulan mengenai keungaan Musala Al-Mudzakir.”
“Silakah Pak Rahmat.”

Mendengar pembicaraan penting tersebut semua jamaah musala menghentikan obrolannya.
“Tadi saya bertemu dengan Fikri, Mbah. Kelihatannya mereka sedang kesulitan ekonomi. Jika melihat laporan pembukuan keungaan musala ini, uang kas selalu meningkat dan melebihi dana operasional sehari-sehari. Bagaimana jika kita gunakan untuk membantu keluarga Fikri? Saya merasa kasihan jika Fikri dan ibunya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.”
“Saya setuju dengan usulan Pak Rahmat. Saya kasihan dengan Bu Nuha, setiap hari harus mencari ceceran padi yang ada di sawah untuk makannya,” celetuk Pak Soleh. Pak Parlan ikut menimpali peryataan Pak Sholeh
“Kemarin sempat juga pinjam uang kepada istri saya, buat membeli paket internet untuk sekolah anaknya.”
“Bapak-bapak, saya juga punya usul bagaimana jika kita membentuk baitul mal? Untuk mengelola zakat, infak, sedekah, untuk kepentingan lingkungan Musala Al-Mudzakir,” Pak Rahmat mengusulkan kepada para jamaah.
Memang keuangan Musala Al-Mudzakir sekarang sedang berlebih walaupun di masa pandemi. Banyak murid TPA yang mengikhlaskan sebagian uang jajannya untuk mengisi kotak infak TPA Al-Mudzakir. Wasik bertangan dingin dalam menangani siswa. Orang tua murid merasa senang anaknya diajarnya. Murid TPA Al-Mudzakir menanjak tajam sejak kepulangan Wasik, anak Mbah Usup, dari nyantri di Ponpes Al-Hikmah. Saking senangnya, mereka suka rela mengisi kotak infak TPA.
***
Sepulang dari musala, Pak Rahmat berbicang ringan dengan istrinya. Ia meceritakan kesepakan jamaah musala untuk mengalokasikan sisa dana operasional untuk membantu Bu Nuha.
“Alhamdullah, jika semua perwakilan musala sepakat, Pak.”
“Mbah Usup masih mengistikharahi mengenai baitul mal.” Belum selesai cerita Pak Rahmat, suara salam terdengar dari depan pintu ruang tamu. Ia bergegas membukakan pintu.
“Silakan masuk, Pak Ali.”
Pak Rahmat mengayunkan kaki ke kursi ruang tamu. Kemudian mempersilakan Pak Ali duduk.
“Baik Pak. Kedatangan saya kemari untuk mengabarkan bahwa dua tahun lagi Bapak dan Ibu akan berangkat. Sesuai dengan aturan bagi calon jamaah haji untuk melunasi sisa setoran awal sebesar Rp 22 juta.”
“Insyaallah, dalam minggu ini saya melunasi.”
“Baik Bapak, diusahakan sebelum akhir bulan. Di awal bulan kami harus berkoordinasi dengan Kemenag. Jika terlambat melunasi, Bapak dan Ibu tidak akan berangkat sesuai jadwal.”
Kabar keberangkatan menunaikan rukun Islam kelima ini membuat keluarga Pak Rahmat bahagia. Momen yang ditunggu selama delapan belas tahun akhirnya datang juga.
***
Malam ini terasa sangat dingin sampai menembus tulang. Kendingan ini membuat perut Fikri lapar. Dilihatnya jam di dinding menunjukan pukul 22.00. Ia membangunkan badannya menuju ke dapur. Saat berjalan menuju dapur, ia mencium bau gas yang menyengat yang diiringi suara desis seperti ban bocor. Fikri beniat memeriksanya. Firasatnya mulai tidak enak. Walaupun demikian, Fikri tetap berniat memeriksanya ketika suara desis semakin kuat terdengar.
