Artinya: “Suatu bangsa akan tetap bertahan selama akhlaknya masih terjaga. Jika akhlaknya rusak, maka bangsa itu pun akan hancur.
Menjaga Ikatan Guru-Murid

Untuk menegaskan pentingnya hubungan murid dengan guru, Abi Nawawi juga menyampaikan kisah dari kehidupan ulama besar Fudail bin ‘Iyadh.
Dikisahkan bahwa salah satu murid beliau dikenal sangat cerdas, tetapi jarang berkumpul bersama teman-temannya dan juga jarang menghadiri majelis gurunya.
Ketika murid tersebut berada dalam sakaratul maut, Fudail bin ‘Iyadh datang untuk menalqinkan kalimat lā ilāha illallāh. Namun murid tersebut justru menolak untuk mengucapkannya.
Peristiwa itu membuat Fudail bin ‘Iyadh sangat terpukul. Dalam sebuah mimpi, murid tersebut kemudian menjelaskan bahwa selama hidup ia memiliki beberapa kebiasaan buruk: gemar menyebarkan cerita yang memecah hubungan sesama murid, memiliki rasa hasad kepada orang lain, serta jarang mendekat kepada gurunya.
Akibatnya, hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Bahkan karena kegelisahan itu, ia pernah mengikuti saran seorang tabib yang menyuruhnya meminum khamr agar dapat tidur.
Menurut Abi Nawawi, kisah tersebut menjadi pelajaran penting bagi para santri. Seorang murid tidak boleh menjauh dari gurunya. Hubungan antara murid dan guru bukan hanya hubungan akademik, tetapi juga hubungan batin yang harus terus dijaga.
Karena itu, para santri dan alumni diingatkan agar tidak sampai memutus keterhubungan dengan guru maupun almamater.
Di akhir pesannya, Abi Nawawi menegaskan bahwa ukuran kesuksesan seorang santri bukanlah semata-mata jabatan, popularitas, atau keluasan ilmu.
Kesuksesan sejati, menurut beliau, adalah ketika seseorang wafat dalam keadaan husnul khatimah dan kepergiannya meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang di sekitarnya.
“Ilmu yang banyak dan kedudukan yang tinggi tidak akan berarti tanpa akhlak dan keikhlasan.”
Melalui peringatan Haul Masyayikh ini, para santri dan alumni diingatkan kembali bahwa menjadi santri bukan sekadar pengalaman masa lalu. Menjadi santri adalah identitas yang membawa tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai yang diwariskan para masyayikh.
Harapannya, para santri dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga beramal, ikhlas, dan berakhlak, sehingga menjadi santri yang benar-benar diharapkan dan dibanggakan oleh para guru mereka.
