Beliau menyebut sejumlah tokoh penting dalam sejarah Lirboyo, mulai dari KH Abdul Karim, KH Marzuqi Dahlan, hingga KH Mahrus Aly.
Menurut Abi Nawawi, para masyayikh tersebut mewariskan empat nilai utama yang menjadi fondasi pendidikan pesantren Lirboyo. Empat nilai tersebut diringkas dalam singkatan I-A-I-A: Ilmu, Amal, Ikhlas, dan Akhlak.

Pertama adalah ilmu, yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang santri. Sejak masa KH Abdul Karim hingga generasi setelahnya seperti KH Mahrus Aly, perhatian terhadap ilmu selalu menjadi prioritas utama.
Bahkan, tutur Abi Nawawi: “Beliau-beliau ini sangat perhatian terhadap ilmu, termasuk dalam memilih dan memilah menantu. Yang dilihat itu ilmunya.”
Kedua adalah amal, yaitu bagaimana ilmu yang dimiliki benar-benar diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini Abi Nawawi mengutip sebuah syair yang berbunyi:
فعالم بِعِلْمِهِ لم يعملن # معذب من قبل عباد الوثن
وكل من بِغَيْر علم يعْمل # أَعماله مَرْدُودَة لَا تقبل
Artinya: “Orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum para penyembah berhala. Sementara orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak oleh Allah Swt.”
Ketiga adalah ikhlas, nilai yang sangat ditekankan oleh para guru pesantren. Para ulama terdahulu mengajarkan ilmu dengan penuh ketulusan tanpa mengharapkan balasan duniawi, termasuk dalam pengabdian kepada masyarakat.
Nilai keempat adalah akhlak, yang menjadi penopang utama keberlangsungan suatu masyarakat.
Dalam hal ini Abi Nawawi mengutip syair bahar basith yang cukup dikenal:
وَإِنَّمَا الْأُمَمُ الأَخْلاقُ مَا بَقِيَتْ
فَإِنْ هُمْ ذَهَبَتْ أَخْلاقُهُمْ ذَهَبُوا
