“Hijrah, Ah…”

Pemaknaan atas hijrah sebagai fakta historis itu kemudian terus berkembang jauh dan hari-hari ini menjadi istilah yang sangat popular di Indonesia. Hijrah, yang arti dasarnya adalah berpindah atau meninggalkan, kemudian diberi pemaknaan yang umum; berpindah dari ketidakbaikan menuju kebaikan atau meninggalkan kemaksiatan menggantinya dengan amal saleh.

Tidak ada yang salah dengan pemaknaan umum itu. Yang berbahaya adalah ketika dengannya kita merasa berhak untuk memonopoli kebenaran. Hijrah kemudian menjadi label, menjadi merek, sebagai alat untuk memonopoli kebenaran itu sendiri —yang benar adalah mereka yang mendaku telah berhijrah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selama ini, terhadap orang-orang jahat atau tidak baik yang kemudian sadar dan beralih menjadi orang baik, kita punya istilah taubat. Bahkan ada istilah taubatan nasuha, sebaik-baiknya taubat.  Terhadap orang-orang yang baru berpindah agama untuk memeluk Islam, ada istilah muallaf. Kenapa istilah-istilah itu seakan tenggelam, dan berganti nama menjadi hijrah? Tapi kenapa orang-orang yang sebelumnya tak mondok kemudian menjadi santri tak disebut hijrah? Kenapa orang yang baru terdaftar menjadi anggoa Nahdlatul Ulama atau Muhammdiyah juga tak dapat sebutan hijrah?

Inilah kemudian kompleksitas hijrah paling modern: bukan lagi fakta historis, melainkan sebuah label atau merek dagang untuk memonopoli kebenaran oleh kelompok tertentu dengan segala simbolisasinya. Misalnya, hijrah adalah berganti gaya busana dari celana biasa (atau sarung, mungkin) menjadi celana cingkrang; dari muka klimis menjadi berjenggot; dari kerudung menjadi cadar.

Maka, belum lama ini ada seorang selebriti merekam dirinya sedang membuang minuman beralkohol ke wastafel, dengan tampang mulai berjenggot ia berseru: Aku telah berhijrah! Sepertinya, berhijrah ternyata semudah berpindah posisi duduk di pojok sebuah kafe sambil bergumam: hijrah, ah… dan kita tiba-tiba menjadi bagian dari kelompok yang mendaku memperoleh jaminan surga.

Tinggalkan Balasan