Hikayat Talang

Hingga suatu ketika, tampak beberapa ranting dan daun kering jatuh menimpanya. Atas apa yang ia dapati, ia berpikir apabila reranting dan dedaunaan kian banyak menumpuk di permukaannya, pasti bakal terpenuhi keinginannya. Kemudian, dari hari ke hari, harapannya kian menjadi-jadi: semakin banyak ranting dan daun kering juga debu menumpuk di sebagian permukaannya. Ini menjadikannya senang sekali, ditambah pemiliknya, tidak seperti pemilik rumah sebelah kanan, tidak pernah membersihkan apa lagi merawatnya.

Saat ia mengabarkan kesenangannya tersebut juga keinginannya yang, menurutnya, tidak lama lagi bakal terlaksana, lagi-lagi temannya itu menasihatinya. Di penghujung nasihat yang hampir sama dengan nasihat sebelumnya, temannya menambahkan: sebagai talang yang tidak pernah dibersihkan, seharusnya ia prihatin, karena itu dapat mengganggunya. Akan tetapi, lagi-lagi ia tidak peduli nasihat temannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Suatu hari, setelah membersihkan talang rumahnya, pemilik rumah sebelah kanan mendapati cukup banyak timbunan dedaunan dan ranting kering di talang rumah tetangganya. Ingin ia memberitahukannya supaya si tetangga mau membersihkannya. Namun, setelah berpikir sejenak, sebaiknya ia memberitahukannya kelak saat membersihkan talang rumahnya—sembari memberi teladan pada tetangganya.

Maka, pada suatu sore, saat mendapati tetangganya itu berada di belakang rumah, ia bergegas menyandarkan sebuah tangga bambu pada atap rumahnya, dan betul dugaannya, tetangganya itu bertanya, apa yang sedang ia kerjakan. Membersihkan talang, demikan ia memberitahukan. Namun, tetangganya itu masih enggan melakukan.

Hari demi hari berlalu, musim hujan mulai menyapa, talang itu senang tiada terkira. Mula-mula rasa irinya pada pepohonan itu rada terkurangi, karena, seperti dugaannya, tidak semua air yang mengalir di permukaannya bablas untuk mereka. Akan tetapi, dari hari ke hari, seiring intensitas hujan kian sering dan deras, ia mulai merasa berat menanggungnya, sehingga pada suatu petang, karena tidak kuat lagi menahan, ambrollah sebagian dirinya. Pada titik ini ia menyesal tidak menuruti nasihat temannya, juga menyesalkan kelakuan pemiliknya yang tidak pernah membersihkan apa lagi merawatnya.

Tinggalkan Balasan