Hikayatun

Entah bagaimana cara kerjanya, ia tak mengerti, yang jelas kantuk yang ia tahan-tahan sedari tadi, sekonyong-konyong ngeclap begitu mendengar suara kiainya itu sampai pada kata hikayatun saat membaca sebuah kitab di depan para santri yang tampak ngapsaih, memaknai kitab masing-masing di malam yang mulai larut itu.

Tak hanya sekali ini; itu telah terjadi berkali-kali padanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mushonif—penulis kitab—tersebut, kali ini mengisahkan seorang ulama yang mendapat julukan Ibnu Hajar alias Si Putra Batu. Diceritakan, sewaktu muda, setelah bertahun-tahun ngaji pada seorang guru tanpa mendapat sedikit pun ilmu, setengah putus asa ia meminta izin pada gurunya untuk mukim, pulang—menetap di rumahnya.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba turun hujan. Karena yang ia dapati di sekitar situ hanya sebuah goa, ia pun berlindung di dalamnya. Tak dinyana, di situ secercah pencerahan datang menimpuknya. Sebongkah batu besar tampak kokoh ngedeprok di depannya, sementara tetes demi tetes air yang turun secara konstan dan berulang jatuh menimpa satu lubang di permukaannya. Sekonyong-konyong ia kepikiran, apabila batu sekeras itu pada akhirnya luluh pada air yang terus menetesinya, harusnya otaknya pun dapat menampung ilmu demi ilmu yang terus diajarkan oleh gurunya.

Batal pulang, ia kembali ke tempat gurunya.

Dan setelah ngaji dengan ketekunan tingkat tinggi, beberapa tahun kemudian ia masyhur sebagai seorang ulama yang menulis sebuah kitab Hadits yang sampai sekarang terus dikaji.

Di saat yang lain, kiainya itu membacakan hikayatun yang menceritakan:

Suatu saat Umar bin Khatab berjalan menyusuri sebuah kota. Mendapati seekor burung emprit dijadikan mainan oleh seorang bocah, ia jatuh iba lalu membeli dan melepaskan burung itu.

Beberapa tahun kemudian, setelah wafat, beberapa orang bermimpi bertemu dengannya. Mereka bertanya bagaimana keadaanya; bagaimana Gusti Allah Ta’ala memperlakukannya. Umar bin Khatab menjawab: Allah telah mengampuni segala kesalahannya.

Kemudian mereka bertanya, ia mendapat perlakuan seperti itu apa karena kedermawanan, keadilan, atau kezuhudannya.

Umar ibn Khatab menjawab dengan mengisahkan:

Beberapa saat setelah dimakamkan, setelah semua orang meninggalkannya, dua malaikat terlihat sangar mendekat ke arahnya. Saking takutnya ia tak bisa mikir—seakan hilang akalnya. Namun saat mereka hendak menanyainya, sekonyong-konyong terdengar perintah untuk meninggalkannya— membebaskannya dari pertanyaan kubur. Gusti Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah mengampuninya karena rasa sayangnya pada seekor burung.

Selain dapat menghilangkan kantuknya, hikayat-hikayat seperti itu terasa lebih kuat menancap di ingatannya ketimbang pelajaran-pelajaran yang di-wulangkan oleh guru-gurunya di pesantren itu. Entahlah, pikirnya kemudian, barangkali karena ia tak secerdas teman-teman seangkatannya, terlebih soal hafalan. Rata-rata mereka lebih cepat khatam menghafal nadzoman ketimbang dirinya. Atau bisa jadi karena ia tak sesemangat mereka dalam mengaji; tak se-mempeng mereka dalam menghafal.

Tak bisa dimungkiri, mula-mula ia mondok karena dorongan orang tua—terutama ayahnya—yang ingin menjadikannya pinter ilmu agama. Waktu itu ia baru lulus Sekolah Dasar. Hari-hari pertama di pondok adalah hari-hari yang kelak kerap hinggap dalam kenangannya. Suasana yang sama sekali berbeda dengan di rumah, belum ada teman akrab, waktu tidur lebih malam, sementara pagi-pagi sekali pengurus pondok sudah ngoprak-ngoprak—membangunkannya untuk salat subuh berjamaah, kemudian ngaji dan setelah itu ngantre mandi sebelum berangkat ke sekolah.

Sebagai seorang bocah, wajar bila semua itu menjadikannya tak betah. Ditambah kerinduan kepada ibu dan ayah—kerinduan pada rumah— kerap datang menyergah; sebagai seorang bocah, wajar bila semua itu menjadikannya nelangsa.

Hingga beberapa hari kemudian ayahnya datang menjenguknya. Setengah merengek ia minta ikut pulang. Tetapi sebaliknya, ayahnya malah memintanya untuk bertahan: toh lama-kelamaan bakal kerasan.

Demi menyenangkannya, selain memberinya uang banyak untuk membeli jajan kesukaannya, ayahnya membawakan banyak makanan. Ia pun memakannya bareng teman-teman sekamar, dan tak dinyana, dari sini ia mulai akrab dengan mereka.

***

Tinggalkan Balasan