Hikayatun

Suatu hari, tulisnya, seorang pemuda merenung di pinggir kali.

Untuk beberapa saat ia tampak berpikir, kemudian melanjutkan: Tiba-tiba ia melihat buah delima hanyut ke arahnya. Karena lapar ia mengambil lalu memakannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah berhenti sejenak ia lanjut menuliskan: Namun karena sikap wira’i-nya pemuda itu menyesali perbuatannya. Ia tak tahu apakah pemilik buah itu ikhlas buahnya dimakan olehnya. Lalu ia bergegas menyusuri sungai itu. Mencari dari kebun mana buah itu jatuh.

Ketika menemukan pemilik kebun, ia pun meminta kehalalan buah itu. Pemilik kebun bersedia menghalalkannya dengan syarat pemuda itu mau menikahi anak gadisnya yang bisu, buta, dan tuli.

Meski awalnya keberatan, demi memperoleh kehalalannya, akhirnya ia setuju.

Di malam pertama ia bingung campur terpana: mendapati istrinya itu ternyata tidak bisu, tidak buta, juga tidak tuli. Malahan ia ayu sekali.

Ayah mertuanya pun menjelaskan, anak gadisnya itu bisu dalam arti mulutnya tak pernah mengucapkan kata-kata yang menyebabkan dosa, buta karena matanya tak pernah digunakan untuk maksiat serta tuli dari mendengarkan ucapan buruk.

Pemuda itu bersyukur sekali.

Bertahun-tahun kemudian, dari pasangan ini, lahir seorang mujtahid besar bernama Imam Syafi’i.

Demikianlah, akhirnya ia rampung menulis satu hikayat. Aneh, pikirnya, ada perasaan lega datang membuntutinya. Sejak saat itu ia belajar menulis cerita dengan cara menulis hikayat-hikayat serupa itu. Kendati di waktu awal-awal menulis ia sering merasa kesulitan, lama-lama setelah sering menulis, ia dapat mengatasinya.

Dan dari waktu ke waktu ia merasa tulisannya lebih baik daripada tulisan sebelumnya. Selain itu, ia mulai menulis cerita-ceritanya sendiri dan menyuruh temannya membaca serta mengomentarinya. Bagus, kata temannya, kenapa tak kau kirimkan ke koran atau situs yang memuat cerpen?

Persoalannya ia merasa tulisan-tulisannya masih terlalu pendek, setidaknya bila dibandingkan dengan cerpen-cerpen bacaannya selama ini. Sementara ia belum berani menuruti saran temannya itu, ia memperdalam pengetahuannya perihal dunia menulis lewat bacaan juga gendu-gendu rasa dengan teman-teman yang sama-sama suka menulis cerita. Dan, yang tak kalah penting: rutin menulis cerita.

Sampai suatu waktu ia membaca sebuah laman facebook mengabarkan sayembara menulis cerita pendek dengan tema terkait dunia pesantren. Kendati telah sering membaca kabar seperti itu, sampai sekarang ia belum pernah mengikutinya. Tetapi kali ini, ia ingin mengikutinya. Mungkin karena tema-nya mengingatkannya pada beberapa peristiwa sewaktu nyantri bertahun-tahun lalu.

Kendati belum menulis cerpen yang bakal dikirimkan untuk lomba tersebut, ia sudah membayangkan cerpennya bakal terpilih menjadi salah satu juara atau paling tidak masuk kategori terpilih yang kabarnya akan dibukukan.

Ini bisa jadi untuk menyemangati diri sendiri dalam proses menulis nanti atau lebih dari itu; dengan dibukukan salah satu cerpennya, setidaknya ia dapat membuktikan pada ayahnya bahwa lewat hikayat-hikayat—yang acap kali ia sisipkan pada cerpen-cerpennya—pun merupakan salah satu bentuk dakwah, mulang, menyebarkan cerita-cerita sarat kebaikan yang bisa jadi menginspirasi seseorang berbuat kebaikan. Karena bagaimanapun, kendati ayahnya tidak secara langsung mengatakannya, sepertinya ayahnya tetap berharap ia dapat seperti teman-teman seangkatan mondoknya yang di antaranya kini ngimami di musala atau setidaknya ikut mulang ngaji di TPQ.

Sementara itu, entah mengapa, ia belum bisa memenuhi harapan ayahnya. Mungkin karena ia telah menempuh jalur yang lain, jalur yang menurutnya lebih menyentuh kesadaran dan rasa, jalur cerita.

Maka, sembari berharap semoga Gusti Allah mengabulkan harapannya, ia mulai menulis:

Entah bagaimana cara kerjanya, ia tak mengerti, yang jelas kantuk yang ia tahan-tahan sedari tadi, sekonyong-konyong ngeclap begitu mendengar suara kiainya itu sampai pada kata hikayatun saat membaca sebuah kitab di depan para santri yang tampak ngapsaih, memaknai kitab masing-masing di malam yang mulai larut itu…

Tinggalkan Balasan