Hari demi hari berlalu. Kendati belum betah betul, ia mulai terbiasa menjalani aktivitas di pondok itu. Sampai suatu hari, saat ngaji ia mendengar gurunya bercerita:
Beberapa saat setelah pasukan Raja Namrud berhasil melemparkan Nabi Ibrahim masuk ke dalam kobaran api yang amat besar itu, seekor kodok—didorong rasa iba terhadap Sang Nabi—tampak prek-prek-an, bolak-balik mencolot untuk menyedot air yang ada di sekitar situ untuk kemudian ia semburkan demi memadamkannya. Sementara itu seekor cicak tampak semangat sekali berulang-ulang meniupi api supaya bertambah besar.

Kendati usaha keduanya sama-sama tak berhasil—tak memberi efek apa pun pada kobaran api itu—, Gusti Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang senang terhadap perbuatan si kodok, sebaliknya Dia bendu terhadap kelakuan si cicak.
Dari kejadian ini, lanjut gurunya, kelak Kanjeng Nabi Muhammad melarang sahabatnya yang meminta izin membelah seekor kodok untuk dijadikan obat, dan dibolehkannya umatnya membunuh seekor cicak.
Ia terpukau mendengar hikayat itu.
Dari sini ia mulai senang mengaji, terutama mendengar cerita-cerita seperti itu yang kadang diceritakan guru-gurunya di sela membacakan kitab atau di saat mereka dopokan di teras komplek kamarnya.
***
Bulan demi bulan berlalu. Kendati ia telah betul-betul betah manggon di pesantren itu, saat kerinduan kepada ibu dan ayah, kerinduan pada rumah, kerinduannya sebagai bocah datang menyergah, ia merasakannya dengan begitu dalam—begitu ungu. Syukurlah, ayahnya kerap datang menjenguknya. Kelak, setelah dewasa, saat ia mulai mandiri, disibukkan pekerjaan, agak berjarak dengan orang tuanya, ia mengenang saat-saat yang begitu dalam tersebut untuk mengingatkan diri agar tetap berbakti pada mereka.
Sementara itu hikayat demi hikayat makin banyak menumpuk di dalam kepalanya. Suatu saat, setelah dapat uang kiriman dari ayahnya, ia mentraktir temannya makan di kantin. Rampung makan ia menemukan cerita di selembar koran pembungkus nasi tadi. Seusai membacanya, ia mendapat kesan seperti saat mendengar hikayat-hikayat tersebut.
Waktu itu ia belum tahu yang dinamakan cerpen, cerita pendek.
Beberapa tahun kemudian, ketika pondok pesantren itu berhasil mendirikan sebuah perpustakaan, ia senang tak ketulungan. Tak jarang ia mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang telah menyedekahkan buku ke perpustakaan itu. Karena melalui buku-buku yang dibacanya, kesukaannya pada cerita kian tersalurkan.
Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu, karena koran-koran yang dibeli secara langganan oleh pengurus perpustakaan itu menyajikan cerita pendek juga tulisan yang kadang terkait dengannya. Kian banyak membacanya, ia kian ketularan ingin menulis cerita. Tak heran, saat temannya—seusai menyatakan ingin jadi seorang mufasir dan kelak melanjutkan ngaji ke Mesir lalu menanyai apa cita-citanya—, dengan mantap ia menjawab: ingin jadi penulis cerita!
Maka, yang terjadi kemudian, bermodal pengalaman beberapa kali pernah mengarang sewaktu pelajaran Bahasa Indonesia dan bacaannya selama ini, di sela kegiatan mengaji dan sekolah ia mencoba menulis cerita.
Mula-mula ia bingung harus menulis apa.
Seperempat jam kemudian satu gagasan merasuki kepalanya, tetapi ia gamang bagaimana memulai menuliskannya.
Setengah jam telah berlalu, tetapi satu kata pun belum tergurat di lembaran kertas itu.
Tak menyerah, ia berusaha mengingat nasihat-nasihat penulis yang pernah ia baca. Ah, ya, ia teringat: tulis apa yang paling kau ketahui; apa yang paling kau sukai.
Karena yang paling ia ketahui dan sukai adalah hikayat-hikayat seperti itu, ia pun coba menceritakan ulang lewat tulisan.
