Ibu Jelmaan Merpati

Lima belas menit kemudian, keluarga itu segera menjalankan aktivitas masing-masing. Sang ayah dengan vespa jadulnya berangkat ke sekolah. Aryo dan Santi berjalan kaki menuju tugas yang diberikan ibunya. Sedangkan, ibu mereka di dapur tengah mengadon bahan pembuatan tempe. Mulai dari memberi ragi, memijat, dan mengaduk rata beberapa campuran lain.

“Mas Aryo, kamu tadi melihat ibu sarapan?” tanya Santi membuka obrolan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tidak, Dik. Karena tadi setelah membantu ibu menyalakan tungku, aku lekas masuk kamar, menyelesaikan tugas dari pondok, ” jawab Aryo sambil menikmati udara pagi.

“Mengapa ibu dari dulu jarang mengambil jatah sarapan ya, Mas? Terus mengapa makanannya itu cuma pas buat kita bertiga?”

“Entahlah. Aku juga tidak paham. Mungkin ibu memang sudah makan, ” ujar Aryo sekenanya.

Setiba di pertigaan desa, Aryo dan Santi saling melambaikan tangan berpisah ke tujuan masing-masing. Sambil tetap menyimpan misteri dari obrolan mengapa ibu mereka jarang ikut sarapan di tiap pagi. Bahkan kalau malam pun, ibu mereka hanya makan dari sisa-sisa hidangan, setelah membagi rata kepada Aryo, Santi, dan suaminya. Beribu pertanyaan menjejali benak kedua anak penjual tempe itu.
***

Semburat merah sudah membara di ufuk barat. Beberapa orang nampak berjalan pulang. Ada yang dari ladang, kantor, dan sekolahan. Di atas langit tampak pula kawanan burung kuntul membentuk formasi hendak menuju sarang. Beberapa burung merpati juga menghiasi langit desa itu. Dengan cepat mereka mendarat di gupon masing-masing. Terdengar pula suara adzan maghrib mulai bersahutan dari corong-corong masjid.

Desa yang terletak di pinggiran kota Demak ini seperti bersolek memperlihatkan nuansa asrinya. Apalagi, dari kejauhan mulai terbentuk iringan-iringan jemaah. Baik tua, muda, dan anak-anak, bersama mereka bergerak menuju masjid. Bagai barisan malaikat rombongan berbaju putih itu menyemut menuju rumah Allah.

Di antara rombongan itu, nampak Santi berjalan di samping ibunya. Bergandengan mereka bergerak memenuhi panggilan Illahi. Selesai menunaikan salat, para jemaah ada yang pulang, juga ada yang tetap duduk di masjid menunggu salat isya.

“Hari ini ibu masak apa?” tanya Santi saat berjalan pulang.

“Orek tempe dan ikan pindang, Nduk.”

Mendapat jawaban dari ibunya, Santi semakin tidak sabar sampai rumah. Baginya tidak ada masakan paling enak, kecuali racikan dari ibunya sendiri. Sama sekali ibunya tidak pernah gagal dalam mengawinkan bumbu dan bahan makanan. Setiap yang diolahnya pasti menjadi sajian nikmat, meski sederhana. Beberapa tumbuhan seperti jambu, sawo, dan parit kecil menemani perjalanan pulang. Tidak lama kemudian, kedua insan tersebut melangkah masuk rumah.

“Silakan, segera habiskan makanan masing-masing, ” ucap sang ibu sambil menuangkan sisa nasi dan sayur tempe orek ke piringnya.

“Ibu tidak makan pindang?” tanya Aryo dan Santi kompak. Mereka nampak heran, sebab ibu mereka hanya makan menggunakan sayur. Ayahnya yang duduk di samping ibu mereka hanya tersenyum. Dengan lahap ia menyantap makanan olahan istrinya itu.

“Sudah dimakan saja. Ibu lagi tidak ingin makan ikan pindang. Biar sisa pindang di dapur disimpan untuk sarapan esok!” balas si ibu santai.

“Oh, iya. Santi, ini uang SPP-mu, Nduk! Penjualan tempe hari ini sangat laris. Alhamdulillah akhirnya terkumpul juga uang SPP-nya,” tukas ibunya sambil menyodorkan amplop.
***

Tinggalkan Balasan