Ibu Jelmaan Merpati

Aryo yang memang sedari kecil terbiasa dengan sikap ibunya itu, malam ini ia putuskan untuk membuntuti ibunya. Saat dikira semua sudah tidur, ibu terlihat tengah menekuri sebuah buku. Aryo juga tersentak saat ibu menggumam kalau cincin nikahnya terpaksa digadaikan. Pesta ikan pindang itu ternyata sisa dari uang hasil menggadai cincin.

“Semoga kalian menjadi anak pintar, ” ucap ibunya lirih sambil beranjak menuju tumpukan piring kotor.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saat Aryo mengendap menuju dapur, ia kembali tercengang. Ternyata ibunya tengah menghabiskan sisa-sisa nasi di piring Santi dan piringnya. Beberapa kali nasi itu ditempelkan pada duri-duri pindang. Seolah itu menjadi pengobat rasa, agar ibunya juga ikut makan pindang. Selain itu, di dapur juga tidak ada sisa pindang seperti apa yang ibunya ungkapkan tadi saat makan malam.

Saat hendak kembali ke kamar, tidak sengaja Aryo melihat buku usang yang tadi dibaca ibunya. Penasaran karena ibunya juga tengah mencuci piring di sumur, akhirnya ia membuka buku itu. Saat ini Aryo tidak hanya tercengang. Bulir bening kini sudah membasahi kedua pipinya. Di atas kertas putih itu, tertulis daftar utang ibunya. Selain itu, juga tercatat tentang kerugian penjualan tempe karena saat berjualan banyak para pembeli yang menawar di bawah harga normal.

“Loh, Aryo! Mengapa kamu belum tidur? Dan itu kamu lagi baca apa?” tegur ibunya dari belakang. Aryo yang tadinya larut dalam perasaan sedih, terperanjat mendengar pertanyaan itu.

Kini jelas sudah semua sikap ibunya yang selalu makan terakhir. Bahkan ia juga sering menunjukkan senyuman tiada beban. Hanya dari buku lusuh itu saja, Aryo sudah mendapat bayangan beban yang harus ditanggung orang tuanya. Bahkan di lembar terakhir tadi, ibunya sudah bersepakat dengan ayahnya kalau Vespa jadul itu akan dijual untuk biayanya di pondok.

Sambil membawa buku lusuh itu, Aryo mendatangi ibunya. Dipeluknya perempuan yang sudah berhias keriput di mana-mana itu. Tangisnya tiada kuasa ia bendung. Jangkrik yang tadinya nyaring bernyanyi di bawah meja, kini terdiam. Seolah ikut larut dalam suasana di dapur itu. Ibunya tidak menunjukkan raut marah, saat tahu kalau Aryo membaca bukunya. Ia hanya mengelus kepala Aryo sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan.

***
“Ibu, izinkan Aryo bekerja saja! Nanti ngajinya cukup belajar dengan Kiai Matoya di masjid desa, ” kata Aryo terisak.

“Mengapa begitu, Nak? Bukannya kamu senang di pondok?” sahut ibunya lembut.

“Agar aku bisa meringankan beban ekonomi keluarga, Bu,” balas Aryo sambil mengusap ingus.

Ibunya hanya tersenyum mendengar jawaban anaknya itu. Kini ibunya membimbing Aryo duduk di kursi dekat tungku api. Ia tatap Aryo lembut. Diusapnya pula puncak kepala sambil melafazkan doa kebaikan untuk putranya itu.

“Kamu tahu induk merpati, Nak?” tanya ibu yang dibalas Aryo dengan anggukan.

Melihat anggukan Aryo, si ibu menjelaskan bahwa demi bisa memberikan kesempatan hidup pada anaknya, induk merpati rela terbang jauh mencari makan. Setelah dapat, ia tidak menelan makanan itu. Dibawanya pulang biji-biji itu dalam paruhnya. Ketika tiba di sarang, dengan lembut makanan yang ia dapatkan, langsung diberikan pada anak-anak merpati yang belum bisa terbang. Semua itu terus ia lakukan hingga merpati kecil sudah bisa mengepakkan sayap membelah langit dan mencari makan sendiri.

“Kalau kamu lihat kemolekan merpati, indah bulunya, dan romantisnya burung merpati, kesemuanya itu tidak terlepas dari didikan sang induk,” ujar ibunya menjeda penjelasan.

“Maka dari itu, ibu dan ayah hanya belajar dari induk merpati untuk terus berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan Santi. Baru kelak ketika kalian sudah bisa terbang dan memiliki kemanfaatan, di situlah cita-cita kami tercapai. Jadi teruslah belajar di pondok. Biarkan ibu dan ayahmu menjalani peran sebagai orang tua yang belajar dari induk merpati”, ujar ibu menutup nasihatnya. Aryo yang mendengar penjelasan itu, langsung bersujud mencium kaki ibunya.

Sleman, 15 Agustus 2023.

Tinggalkan Balasan