Surat Kedelapan: Kepada KH Abdul Gaffar Ismail

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan takzim, izinkan saya berkirim kabar, Kiai: betapa bahagianya saya yang dipercaya menulis skenario film tentang perjalanan hidup dan karya-karya putra bapak, Taufiq Ismail. Amanah ini bagi saya bukan sekadar tugas kepenulisan, melainkan ziarah sejarah—ziarah kepada garis api yang pernah Kiai pijak demi Republik yang masih belia.

Kiai, pada suatu siang, 31 Januari 2026, Bapak Taufiq Ismail berkisah tentang perjuangan Kiai ketika menerima tugas dari negara yang baru merdeka. Ya, Indonesia ketika itu belum genap berumur tiga tahun; agresi militer Belanda menekan dari darat dan laut; persenjataan tentara kita jauh dari memadai.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam situasi serba terbatas itulah, Kiai dipercaya menjalankan misi senyap: membeli dan mengirimkan senjata dari Singapura melalui jalur yang tak tercatat resmi, memanfaatkan jejaring dagang, simpul perantau Minang, serta relasi diplomatik yang Kiai bangun dengan cermat.

Malam-malam di pengujung 1940-an itu pekat, seolah langit dan laut sepakat menyembunyikan rahasia. Di atas kapal kayu bermesin tunggal yang terbatuk-batuk di Selat Malaka, Kiai berdiri di haluan. Tidak ada jubah ulama berkibar; yang ada hanya bau solar, garam, dan ketegangan yang menyesakkan dada.

Di bawah tumpukan karung karet mentah dan gula, tersembunyi ratusan pucuk senjata—Lee-Enfield, Luger, dan amunisi yang masih berminyak—yang akan menentukan nasib para pejuang di pedalaman Sumatera dan Jawa.

Laut saat itu bukan sekadar air, melainkan rimba yang diawasi predator baja bernama Marine Belanda. Radar mereka menyapu permukaan seperti mata hantu mencari mangsa. Setiap kali lampu patroli tampak berkelip di kejauhan, mesin kapal dimatikan. Kapal dibiarkan hanyut, pura-pura menjadi kayu tak bernyawa. Dalam sunyi itulah doa-doa Kiai dibisikkan, bukan di mimbar, melainkan di antara debur ombak dingin Selat Malaka.

Singapura pascaperang adalah rimba diplomasi dan pasar gelap. Inggris berkuasa secara administratif, tetapi di kedai-kedai kopi Beach Road, bahasa Minang dan Melayu menjadi sandi perjuangan. Kiai bergerak di antara dua dunia: berbicara elegan di hadapan agen-agen asing, namun piawai bernegosiasi dengan makelar senjata sisa Perang Dunia. Jaringan pedagang Minang digerakkan. Karet, lada, dan gula—emas hijau Sumatera—ditukar dengan senapan. Kiai bukan hanya membeli; Kiai memeriksa kualitas. Dan dalam setiap peti senjata, Kiai menyisipkan catatan penting, catatan penyemangat bagi pejuang. Kiai tahu, satu peluru macet bisa berarti satu nyawa pejuang melayang.

Tahun 1948, misi itu mencapai puncaknya. Kiai dipercaya memimpin rombongan tujuh kapal dari Jawa Tengah menuju Singapura, membelah blokade ketat Belanda. Berat muatan mencapai tiga puluh ton—karet, gula, dan vanili—yang akan ditukar dengan senjata dan perlengkapan militer bagi Republik yang tercekik embargo. Kapal-kapal itu diberangkatkan dari pelabuhan Juwana dengan jarak sebatas cakrawala; ketika satu kapal telah hilang dari pandangan ufuk, kapal berikutnya baru dilepas. Tidak ada radio penghubung, hanya kompas sederhana, arah angin, dan doa yang tak pernah terputus dari lisan.

Di dalam rombongan itu, Kiai tidak berangkat sendirian. Istri Kiai, Tinur, tengah hamil besar, mendekati waktu melahirkan. Anak-anak ikut dalam pusaran sejarah: Taufiq yang beranjak remaja, Ida yang masih belia, serta bayi yang kelak lahir di tanah rantau—Musafir Hidayat. Kehadiran keluarga bukan semata kebetulan, melainkan juga bagian dari strategi agar pelayaran tampak sebagai perjalanan dagang biasa, bukan operasi logistik revolusi.

Turut pula adik Kiai, Rasimah Ismail—pejuang perempuan yang pernah merasakan dinginnya penjara kolonial. Tragedi datang pada hari-hari awal pelayaran. Anak bungsu Rasimah, Busro, wafat karena demam di tengah laut. Dalam keadaan terombang-ambing ombak, jenazah kecil itu dikafani seadanya, diikat pada sebilah papan, disalatkan di atas dek kapal, lalu dilepas ke laut.

Kiai menyaksikan dari kejauhan tubuh mungil itu naik turun dibawa gelombang sebelum hilang dari pandangan. Rasimah menjerit; duka seorang ibu bertemu tuntutan perjuangan yang tak memberi jeda. Namun rombongan tidak dapat berhenti. Laut menjadi saksi antara cinta seorang ibu dan kewajiban mempertahankan Republik.

Perjalanan tidak selalu lurus. Angin kencang membuat kapal terdepan bergeser hingga mendarat di Mersing, daratan Malaya, bukan tepat di Singapura sebagaimana direncanakan. Satu kapal karam, lima lainnya selamat. Dalam pelayaran balik yang memakan dua pekan, air minum habis. Mereka singgah di sebuah pulau karang yang oleh pelaut disebut Pulau Babi. Di waktu maghrib terdengar suara seperti genderang dipukul bertalu-talu dari balik batu kosong— “Dung,dung,dung!”— padahal pulau itu tak berpenghuni. Badai kemudian datang; layar digulung dan ditaruh di atas dek untuk menampung air hujan. Air itu diminum meski berwarna kekuningan akibat lunturan cat layar.

Akhirnya rombongan tiba di Singapura. Barang selundupan dijual kepada penadah keturunan China bernama Lim Peng Kang. Hasil penjualan digunakan untuk membeli senjata dan perlengkapan di kawasan War Surplus di Beras Basah Road. Senapan, amunisi, jaket tentara Australia untuk TRI, hingga ban truk yang langka di tanah air dibeli demi memperkuat garis pertahanan Republik. Di tengah ketegangan itu, Tinur melahirkan di Kandang Kambing Hospital pada 12 September 1948. Bayi itu diberi nama Musafir Hidayat—sebuah nama yang menyimpan jejak pengembaraan dan harapan.

Namun pengkhianatan terjadi. Ada yang membocorkan misi kepada polisi Inggris setelah menghamburkan uang selundupan untuk berfoya-foya. Kiai ditangkap dan diinterogasi dari pagi hingga petang. Berkas lama tentang aktivitasnya di Permi Bukittinggi dan Masjumi Yogyakarta telah berada di tangan mereka—tanda kerja sama intel Inggris dan Belanda. Dengan kecerdikan Lim, disiapkan seseorang yang mirip rupa dan perawakannya sebagai siasat pengelabuan jika hukuman penahanan dijatuhkan. Pada akhirnya Kiai tidak ditahan, tetapi diusir dari Singapura dalam waktu 2 x 24 jam.

Tinggalkan Balasan