Ia pernah punya mimpi setinggi langit,
tentang sekolah, tentang dunia yang menarik.
Namun dapur memanggil dengan suara pelan,
lebih nyata dari masa depan yang samar
ia lipat mimpinya dalam diam,
disimpan rapi tanpa banyak dendam.
Karena ia tahu, ada perut yang harus diisi
Dan hidup tak selalu menunggu ambisi.
Api di dapur terus ia jaga,
Meski dalam dadanya ada bara yang sama.
Bukan ia tak ingin terbang jauh,
Hanya saja rumah membuatnya tetap berteduh.
Saat ia membaca ulang kalimat ingin yang tertata pada buku usang
Ia kembali mengusap dada, ia kembali menitikan air mata
Namun, kala ia menyapu ruangan
Ada tiga sosok yang harus ia rangkul
Bukan tak ingin sama, namun ia memilih mengidupkan cinta
IBU YANG TAK PERNAH LELAH BERDOA

Di setiap sujudnya yang panjang dan sunyi,
ia titipkan nama-nama yang ia cintai.
Tak banyak kata, tak banyak pinta,
hanya harap yang tak pernah sirna.
