Ideologi Pancasila dalam Perspektif Islam

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa dia antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat: 13).

Komunikasi antara seseorang dengan orang lainnya, diatur dalam Pancasila, terutama dalam sila kedua; Kemanusiaan yang Adil dan Beradap. Sila ini menjelaskan bahwa hubungan antarmanusia harus berdasarkan atas saling menghormati satu sama lainnya. Tidak boleh saling menghina, saling meremehkan, dan juga saling menjatuhkan baik secara verbal maupun nonverbal. Membangun nuansa kesalingan dalam kebaikan, sehingga terjadi kehidupan dengan damai dan berbahagia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketiga, menjaga persatuan dan kesatuan.

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.” (QS. Ali Imran: 105).

Persatuan dan kesatuan merupakan hal penting dalam kehidupan bersangsa dan bernegara. Persatuan dan kesatuan merupakan perwujudan dari sifat gotong rotong. Saling bahu membahu dalam usaha mempertahankan keutuhan bangsa dan negara.

Keempat, membangun karakter musyawarah.

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Syura: 38).

Di atas disinggung bahwa dalam al-Quran dikatakan “Wa amruhum syura bainahum” (dan dalam setiap urusan hendaknya selalu dimusyawarahkan). Hal ini menunjukkan bahwa di dalam musyawarah mengandung hikmah atau manfaat. Jika kita selalu mengambil keputusan dengan cara dimusyawarahkan, dirapatkan, dan didiskusikan dengan cara yang makruf, baik, dan transparan, maka keputusan itu jauh lebih baik daripada keputusan sepihak. Biasanya, keputusan sepihak penuh dengan kepentingan pribadi atau golongan, maka dalam hal ini akan mengecewakan pihak lain.

Kelima, bertindak adil dan bijak.

“Berlaku adillah karena adil (adl) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8).

Keadilan dalam segala aspek kehidupan merupakan hal yang sangat penting. Karena keadilan itu sendiri menyangkut pribadi dan golongan. Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai.

Meskipun demikian, bukan berarti kita apatis terhadap upaya membangun keadilan. Kita harus tetap semangat, berkomitmen, dan memaksimalkan teknis dalam menciptakan suatu keadilan yang sesungguhnya. Bukan keadilan semu yang hanya terjadi dalam retorika, tetapi benar-benar menyentuh terhadap hajat hidup setiap bangsa.

Tinggalkan Balasan