Ideologi Sekolah dan Ketaksetaraan Struktur Sosial

Dalam hal ini, pendidik tidak dapat sepenuhnya memisahkan aktivitas pendidikan dari campur tangan respons institusi yang timpang dan juga bentuk bentuk kesadaran yang didominasi perekonomian industrial yang sedang melaju pesat seperti di masa kita.

Karenanya, sekolah dalam pandangan sosiolog Inggris tidak hanya memperoses individu tetapi juga pengetahuan. William menyebutkan, sekolah bertindak sebagai agen hegemoni kultural dan ideologi, sebagai agen selektif tradisi dan integrasi kultural (hal. 61)

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kemajuan sekolah dengan beragam latar belakang keunggulan di dalamnya sebenarnya telah dipengaruhi oleh politik, ekonomi,  budaya, dan faktor-faktor lain di dalamnya. Seperti telah kita saksikan dengan seksama, semakin banyak yang mengakui bahwa di tengah masyarakat industri maju, sekolah hanya melayani kelas sosial  tertentu dan mengabaikan kelas-kelas lainnya (hal.98)

Salah satu contoh konkret adalah perbedaan dalam pendidikan seorang anak. Misalnya, anak A selama di sekolahnya diajari hidup disiplin, pekerjaan rumah, rutinitas, dan ketaatan. Sementara, anak B diajari kebebasan memilih sesuai dengan minat yang ia sukai, didampingi untuk melakukan eksperimen dan riset riset kecil untuk menarik minatnya. Cerminan ini jelas bahwa si anak A diajari untuk menjadi kelas pekerja di dalam masyarakatnya, bahwa hidup yang berarti hanya bisa dicapai melalui keringat yang bercucuran, disiplin dan ketaatan. Sementara si anak B diajari untuk menjadi seorang inovator, berjuis muda.

Oleh sebab itu, sekolah bukanlah institusi yang netral, ia mengembangkan ideologi organisasinya sendiri, yakni mereproduksi relasi kekuasaan yang sudah melekat di dalam masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan