Salah satu cerita, ada seorang santri ketika selama di pesantren pekerjaannya hanya menyuci pakaian kiainya. Santri ini tidak pernah ikut pengajian, diskusi, atau kegiatan belajar lainnya. Kemudian, ketika ada sebuah ujian, kiai tersebut menanyai santri-santrinya tentang ilmu yang telah diajarkan kepada mereka.
Namun, mereka tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan kiai itu. Hanya ada satu santri yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, yaitu santri yang pekerjaannya hanya menyuci pakaian kotor milik kiai. Sehingga, ini semua orang kaget, karena semua santri yang setiap hari mengaji tidak bisa menjawab pertanyaan, tetapi santri yang pekerjaannya menyuci baju milik kiai dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Inilah yang menjadi salah satu penyebab munculnya anggapan bahwa seorang santri tersebut mendapat ilmu laduni, yaitu ilmu pemberian langsung dari Allah. Benarkah anggapan ini?

Sebenarnya ilmu laduni itu ada dan nyata, karena banyak ulama salaf yang mendapatkan ilmu tersebut. Hal ini juga dijelaskan dalam kitab Al-Fiyah karya Ibnu Malik.
وَفِــي لَدُنِّــي لَدُنِــي قَـــلَّ وَفِـــي ¤ قَدْنِي وَقَطْنِي الْحَذْفُ أَيْضَاً قَدْ يَفِي
“Jangan berharap mendapatkan ilmu tanpa usaha belajar (laduni), sebab hal itu hanya dapat diraih oleh orang yang khos (spesifik).”
Dalam bait ini dijelaskan bahwa ilmu laduni itu ada, tetapi hanya didapati oleh orang yang khusus saja. Akan tetapi, sebagian orang berpandangan bahwa ilmu ini ada kaitannya dengan kekuatan gaib, karomah, maupun kesaktian seseorang. Sehingga, orang yang mendapatkan ilmu laduni dianggap dapat mengetahui berita-berita gaib dan dapat meramal kejadian yang akan terjadi, sebagaimana dalam kisah Nabi Khidir.
Ilmu laduni sudah dikontruksikan sedemikian rupa, berkaitan dengan karomah dan kekuatan adikrodati. Sehingga, jika mendapati seseorang yang mendapatkan ilmu ini, maka orang tersebut akan dipuja-puja layaknya orang sakti yang memiliki kekuatan, seperti para wali. Dengan begitu, mereka sangat terpesona dan kagum melihat kehebatan orang tersebut. Ini menyebabkan mereka lupa bahwa hakikat ilmu laduni yang sebenarnya bukanlah seperti itu; kehebatan yang mereka sangka akhirnya menjadi tujuan utama para pemuja ilmu.
