Temanku berbisik, “Memangnya yang kau berikan obat apa, Nang?”
“Ssstt…jangan keras-keras. Itu obat maag. Bentuknya sama bulat. Tadi aku cari ke mana-mana obat budrexnya nggak ada, ya diganti itu.”

Sambil berbisik temanku tertawa, “Ha-ha-ha… dasar kamu, Nang! Tapi, tampaknya kepala kamar kita telah sampai tahapan haqqul yaqin, sudah makrifat.”
Itulah kekuatan sugesti, ilmu yakin, tidak terlihat namun jika meyakini, maka kita akan ada, dalam keyakinan yang seyakin-yakinnya.
